SEWA TANAMAN HIAS INDOOR KANTOR






Sewa Tanaman Hias SEMARANG


Sewa Tanaman Hias

Jasa sewa tanaman hias Semarang semakin banyak dibutuhkan di kota yang sarat dengan polusi ini. Sinox Nursery melayani yang terbaik dalam kualitas dan harga. Kepuasan pelanggan adalah nomor satu.

Koleksi berbagai jenis tanaman kami :

  • Palm
  • Song of India
  • Song of Jamaica
  • aglonema
  • puring
  • pandan
  • Aunthurium
  • Adenium
  • Walisongo
  • Andhong
  • Philo
  • Sansivera
  • Pendanus
  • Zamia Culcas
  • Cemara
  • Ephoria dll

Kami juga masih menyediakan banyak jenis tanaman lainnya. 

DEFINBACHIA

SPATY PILUM

DRACAENA FRAGAN

ANDONG MERAH

PALEM KUNING

PALEM KUNING

SPATI PILUM

PAKU SARANG BURUNG

ASPLENIUM

Harga sewa tanaman hias Semarang Sinok Nursery
Tanaman Ruang = Rp40.000-75.000
Tanaman Meja = Rp25.000-30.000
Alamat Nursery:
SINOX NURSERY
JL. VILLA SIBERI KM.1 BANJAREJO BOJA KENDAL
TELP : 081229231277 – 085727054383
Email : guntorobsc2@gmail. Com
Website : www. Sinox nursery. Com
BEBERAPA KANTOR TELAH MEMPERCAYAI KAMI UNTUK MENYEWAKAN TANAMAN HIAS DIRUANGANNYA, SELANJUTNYA KANTOR ANDA SIAP KAMI HIAS.

NO.

Keterangan

Jumlah Pot

1

Rektorat UNDIP

180

2

Hotel Metro

16

3

PT. Sinar Roda Utama

19

4

PT. Surveyor Lt. 1

5

5

PT. Surveyor Lt. 2

10

6

Bank BTN Syariah

7

7

PT. SITC

3

8

PT. Mitra Ekspedisi Sejahtera (JNT)

10

9

PT. Daikin

17

10

Adira Finance (Supriyadi)

10

11

Adira Finance (Bangkong)

6

12

FISIP UNDIP Tembalang

92

13

Imigrasi

20

14

FISIP UNDIP Pleburan

86

15

Starbuck anjasmoro

18

16

Unit Pelayanan Paspor

14

17

PT. Mas Silueta

11

18

Energy Feed

6

19

Bapenda Kendal

31

20

Bank Raya

10

21

Dinas Kesehatan Kota Semarang

119

22

Bu Ana Kalipancur

5

23

Dinas Pendidikan Kota Semarang

28

24

Silver Spoon Metro Park View Hotel

38

25

Dinas ESDM Prov Jateng

61

26

PT MAMAGREEN PACIFIC

30

TOTAL

852



TERIMA KASIH ATAS KEPERCAYAAN YANG TELAH DIBERIKAN KEPADA SINOX NURSERY. SEMOGA TERJALIN KERJA SAMA YANG BAIK
SALAM KERJA SAMA.

Untuk penyewaan tanaman, kami melaksanakannya dengan sistem sewa bulanan atau disesuaikan sesuai dengan permintaan. Kami memiliki berbagai jenis tanaman untuk indoor dan outdoor.
Tanaman hias yang kami sewakan meliputi tanaman meja,yang biasanya berukuran kecil dan tanaman ruangan yang dikhususkan untuk memperindah ruangan,dengan ukuran yang dapat disesuaikan dengan luas ruangan kantor.
Harga sewa tanaman yang kami tawarkan cukup bersaing dan kami berlakukan dengan sistem kontrak.

Jenis tanaman sangat bervariasi.  Di kerjakan oleh tenaga kerja yang sudah ahli di bidangnya. Memilki pelanggan yang sudah cukup banyak.

Catatan :
1.      Harga tersebut minimal 10 pot, kurang dari jumlah minimal ada penambahan Rp.10.000,00 per pot
2.      penggantian tanaman 3 kali dalam setiap bulannya
3.      kontrak kerja sama selama satu tahun
4.      pembayaran sewa tanaman di bulan pertama dilakukan di awal bulan sebagai tanda jadi dan selanjutnya di akhir bulan.


· Tanaman Kecil untuk Table Plant;
1. Standard table plant Rp. 45.000,-
2. Exclucive table plant/ Anggrek Rp. 200.000

· Midle/ Medium indoor plant; Rp. 55.000,-
1. Tinggi tanaman 30 cm sampai 120 cm
2. Diameter tajuk kisaran 75cm
3. Pot dalam ukuran 18 liter
4. Tinggi pot dalam 25 cm
5. Diameter pot dalam 30 cm

· Standar Indoor Plant, Rp. 65.000,-
1. Tinggi tanaman 120 cm sampai 160 cm
2. Diameter tajuk kisaran 85 cm
3. Pot dalam ukuran 22 liter
4. Tinggi pot dalam 30 cm
5. Diameter pot dalam 32,5 cm


· Hight indoor plant Rp. 95.000,-
1. Tinggi tanaman 160 cm sampai 225 cm
2. Diameter tajuk kisaran 85 cm
3. Pot dalam ukuran 26 liter
4. Tinggi pot dalam 32,5 cm
5. Diameter pot dalam 37 cm

· Jumbo Indoor plant Rp. 165.000,-
1. Tinggi tanaman 2 m sampai 2,5 m
2. Diameter tajuk kisaran 90 cm
3. Pot dalam ukuran 40 liter
4. Tinggi pot dalam 34 cm

5. Diameter Pot dalam 42 cm

Read More

harga bunga amarilis orange RP 3.000,-per polibag


Kisah Sukadi Selamatkan Amarilis, Awalnya Musuh Kini Incaran Warga




Sejak minggu kedua Oktober, bunga amarilis (amaryllis) di kebun Sukadi berbunga. Pemandangan cantik halaman rumah dipenuhi lebih 500.000 bunga oranye itu pun kembali menghias jagad internet. “Kebun laksana taman bunga di Belanda.” Begitu pujian orang yang berdatangan ke sana.
Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, kini ada jalan setapak di kebun bunga yang berlokasi di Dusun Ngasemayu, Salam, Patuk, Gunungkidul itu. Juga ada tali menandai batas, dan tulisan peringatan untuk ikut merawat dan tak memetik bunga.
Semua itu disiapkan Sukadi agar tanaman bunga tak lagi hancur terinjak pengunjung. Dua tahun lalu, saat foto taman bunga viral di internet, kebun dibanjiri orang.
Naas, mereka yang mendatangi kebun bunga itu nekat menginjak-injak tanaman demi bisa selfie dengan bunga yang bermekaran.
“Belajar dari 2015, saya kasih celah untuk pejalan kaki. Kemudian tanaman saya kasih pembatas berupa tali rafia agar orang tidak masuk ke area bunga lagi.”
Di pinggir kebun ada tulisan permohonan maaf Sukadi kepada para pengunjung andai kurang puas selama kunjungan. “Itu bentuk keterbatasan kami.”
Ada pula tulisan 15 tahun Puspat. Puspat adalah akronim Puspa Patuk, sebutan yang disematkan Camat Patuk untuk amarilis. Angka 15 tahun sendiri bukan waktu pendek bagi Sukadi dalam membudidayakan amarilis.

Rumah Sukadi, di kelilingi amarilis nan indah. Dulu gulma bagi petani, kini incaran warga. Foto: Nuswantoro/ Mongabay Indonesia
Gulma petani
Di Patuk, amarilis dianggap gulma. Nama yang disandang kurang elok, brambang procot. Tanaman ini tumbuh liar di ladang petani yang berkapur dan tandus. Ladang biasa ditanami jagung, kacang, kedelai, dan ketela.
Amarilis hanya mampu bertahan mekar dua minggu. Setelah itu layu dan mengering. Amarilis akan berbunga lagi awal musim hujan tahun berikutnya.
Kata Sukadi, tanaman ini terbilang mudah tumbuh. Daun hijau memanjang tanpa tulang daun. Umbi cukup besar. Meski di tanah tandus amarilis mampu menyimpan air dalam umbi. Tanaman ini tumbuh bergerombol.
“Semua petani perilaku sama, ingin membasmi. Saya lalu berpikir, kalau perilaku ini terus dilakukan, ini akan musnah. Kalau punah nanti anak cucu kita tidak bisa melihat.”
“Lalu saya punya gagasan bagaimana tumbuhan ini tetap lestari namun tidak menjadi gulma lagi,” katanya.
Demi menyelamatkan populasi bunga ini. Dia jadikan kebun untuk budidaya amarilis padahal lahan itu semula tempat bertani dan berkebun.
“Lahan saya 3.050 meter untuk menyelamatkan tumbuhan ini. Saya biasa bertani kemudian mencari pekerjaan lain. Sebagai penjual mainan anak.”
Sejak 2002, berjualan mainan itu dia lakoni. Hasil jerih payah berjualan mainan sebagian untuk mengganti uang lelah petani yang mau mengumpulkan gulma amarilis. Awalnya, diapun mengambil sendiri dari para petani.
“Waktu itu hampir seluruh petani di Patuk saya datangi. Mereka bersedia mengumpulkan dan tak dibuang di sungai, dicacah, dikubur, atau dibakar. Pada 2014, saya sampai mengumpulkan dua ton umbi.”

Paryono, adik Sukadi yang mengikuti jejak langkah sang abang, budidaya amarilis. Foto: Nuswantoro/ Mongabay Indonesia
Dianggap gila
Gara-gara tanam gulma, Sukadi, sampai diejek dengan panggilan “cot,” dari kata procot.
“Ada juga yang memanggil saya Bram. Dari kata brambang. Kalau Bram agak keren dibanding Sukadi,” katanya berseloroh.
Bertahun-tahun dia mengumpulkan umbi dari petani, lalu menanam sepetak demi sepetak di kebun halaman rumah. Selama itu pula upaya dia mengumpulkan gulma dianggap aneh. Apalagi kebun sebelumnya ditanami tanaman yang laku dijual.
Pria yang hanya sempat mengenyam pendidikan sampai kelas 1 SMP ini tak patah semangat. Justru langkah yang dipandang sebelah mata oleh tetangga jadi cambuk.
“Dulu saya mempromosikan ini tidak dianggap. Bahkan saya dikatakan lucu, gila oleh warga.”
Dia masih ingat dua tahun lalu. Pada 15 November 2015, di Desa Salam diadakan kirab budaya. Warga bebas membuat hiasan pawai. Arak-arakan mulai dari batas desa sampai balai desa yang menempuh jarak sekitar satu km.
“Ada yang bikin replika durian, mesjid, macam-macam. Saya membuat gunungan dari umbi procot ini. Lalu paling atas saya beri yang sudah berbunga. Sepanjang perjalanan ditertawai.”
Sukadi maklum, warga mencibir bukan karena tak suka, tetapi belum mengerti.
“Saya mengangkat amarilis di kirab itu bukan memperkenalkan umbi, tetapi ajakan setop kekerasan kepada amaryllis. Setop pemusnahan amarilis. Jadi ajakan melindungi amarilis.”
Hanya selang seminggu setelah pelaksanaan kirab, taman bunga dia viral di internet dan menjadi berita media massa. Dalam sehari tak kurang 3.000-an orang mengunjungi kebun itu.
“Semua sudah penuh bunga. Tidak ada jalan setapak untuk pejalan kaki karena kebun waktu itu memang tidak untuk kunjungan. Hanya dalam tiga hari sejak booming, tanaman hancur terinjak-injak. Rusak 95% lebih.”
Meski kebun hancur terinjak-injak, dia tidak bersedih. Justru bikin lebih bersemangat.
Berita kebun amarilis rusak pun menyebar. Ada warganet berinisiatif menggalang pengumpulan dana. Beberapa pribadi juga memberikan donasi. Oleh Sukadi, uang itu untuk menambah koleksi umbi dari petani.

Ajakan tertera di taman amarilis, agar tak memetik dan tak menginjak bunga. Foto: Nuswantoro/ Mongabay Indonesia
Berkah
Dulu dibenci dan dimusnahkan, kini amarilis bisa mendatangkan uang. Di ruas Jalan Patuk, mulai tampak penjual bibit amarilis. Cukup membayar Rp10.000 untuk mendapatkan tiga bunga ini.
Sekitar 20 orang sibuk mengatur arus kendaraan dan pengunjung yang memasuki area kebun bunga, mulai dari jalan besar hingga di lokasi. Beberapa penjual makanan dan minuman bermunculan di seputar pintu masuk kebun. Mereka adalah sebagian yang mendapat berkah dari keberadaan kebun amarilis.
Kini, Tugiran dan Paryono, keduanya adik Sukadi, juga mengembangkan bunga ini. Kebun seluas 1.300 meter persegi milik Tugiran bersebelahan dengan kebun Sukadi, kini penuh amarilis. Milik Paryono berada di belakang kebun Sukadi, seluas 2.500 meter persegi.
Ada 30.000 amarilis ditanam Paryono dan terbuka untuk umum. Dua titik lain di rumah dan hutan untuk pembibitan.
Setidaknya ada 1.000 pengunjung perhari mendatangi kebun Paryono. Untuk bisa menyaksikan lebih dekat dan berfoto pengunjung membayar Rp5.000. Jumlah pengunjung kebun Sukadi bisa dua kali lipat. Mereka juga diminta membayar Rp5.000.
Bukan hanya warganet, beberapa tokoh penting pun kepincut mendatangi kebun itu. Ada Gubernur Yogyakarta, Bupati Gunungkidul, hingga Istri Mantan Wakil Presiden, Budiono.
“Umumnya mengapresiasi dan minta diteruskan dan dikembangkan. Ajak teman-teman untuk membuat pembibitan,” kata Sukadi menirukan pesan mereka.
Saat ini, perawatan masih sendiri dibantu anggota keluarga. Untuk pembibitan, beberapa orang sudah tertarik. Meski belum serius mengubah jadi tempat wisata, Sukadi bersyukur taman bunga disukai orang.
“Kalau bibit, lahan memang milik pribadi saya. Tapi keindahan milik siapa saja yang mau datang,” katanya.

Taman amarilis di Gunungkidul. Foto: Nuswantoro/ Mongabay Indonesia

Read More

TANAMAN HIAS PISANG BALI

Heliconia atau bunga pisang-pisangan adalah jenis tanaman hias khas tropis, sering disebut sebagai pisang hias, termasuk golongan Musaceae yang mirip dengan keluarga Strelitzia berasal dari Amerika Latin, namun Heliconia memiliki tiga buah atau lebih seludang sedang Strelitza hanya dua buah. Heliconia sering digunakan sebagai penghias taman di rumah, perkantoran, hotel, sampai pelengkap rangkaian bunga. Bunga Heliconia dipotong pada saat bunga belum sepenuhnya mekar. Ada beberapa jenis Heliconia diantaranya Heliconia Densiflora adalah bunga pisang-pisangan yang bentuk bunganya seperti cakar kepiting dan berwarna jingga kekuningan dan mudah didapat, berikutnya Heliconia Rostrata adalah bunga pisang-pisangan yang bunganya merah dan kuning serta muncul menggantung seperti buah pisang.
Heliconia juga merupakan tanaman yang tidak rewel, cocok ditanam dalam pot maupun tanah, baik indoor maupun outdoor. Ia bisa tumbuh baik di dataran rendah maupun dataran tinggi sampai ketinggian 2.000 meter dari permukaan laut dengan suhu 13-30 derajat celcius. Sebagai tumbuhan khas tropis, Heliconia mudah tumbuh jika langsung terkena sinar matahari.
Pengaturan cahaya sangat diperlukan, terutama bibit yang baru ditanam. Tanaman muda hanya memerlukan cahaya sekitar 25-35 persen. Pada fase ini tanaman membutuhkan naungan sehingga kondisinya terlihat segar.
Pisang-pisangan
Klasifikasi ilmiah
Kingdom:Plantae
Divisi:Magnoliophyta
Kelas:Liliopsida
Ordo:Zingiberals
Famili:Musaceae
Genus:Musa
Spesies
Berdasarkan rangkaian bunganya, Heliconia terbagi menjadi dua jenis:
  1. Heliconia Densiflora
  2. Heliconia Rostrata.
Heliconia Densiflora adalah bunga pisang-pisangan yang bentuk bunganya tegak seperti cakar kepiting dan berwarna jingga kekuningan serta mudah didapat. Sementara Heliconia Rostrata adalah bunga pisang-pisangan yang bunganya merah dan kuning serta muncul menggantung seperti buah pisang. Perbanyakkan kedua jenis Heliconia ini cukup menggunakan anakan (tunas).
Heliconia termasuk dalam keluarga Heliconiaceae. Dari penampilan fisiknya seringkali Heliconia Densiflora sering disamakan dengan Bunga Bird of Paradise (family Strelitziaceae). Bunga Bird of Paradise mengandung warna ungu atau kebiruan, tunggal dan tidak bercabang-cabang. Ketiganya sama-sama termasuk dalam ordo Zingiberales




Read More

whatshap

Diberdayakan oleh Blogger.

Categories

Update Harga Tanaman Terbaru 2026

SINOX NURSERY Jl. Villa Siberi, Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah Telp: 0852 9237 7579 | WA: 085 848 976 777 Email:...

Cari Blog Ini

Chat WA Sinox Nursery

CHANEL YOUTUBE SINOX NURSERY

GOOLE MAP ALAMAT KAMI

Alamat:
Jl. Villa Siberi KM.1 Gunungpati, Semarang.
WA Admin1: 085292377579 atau Admin2: 0858 4897 6777
Konsultasi Taman: 0838 6006 122 atau 089 654 271 270
Email: sinoxnursery2@gmail.com

SINOX NURSERY

“Bersama tanaman, kami bantu ciptakan hunian yang indah, segar, dan nyaman.”

Rental tanaman, toko tanaman hias , toko tanaman terdekat, tukang taman, jasa taman, sewa tanaman, rumput gajah mini, tanaman pucuk merah, tanaman kacangan, toko tanaman buah, taman pabrik, taman pom bensin

Kode Iklan Atas



© Copyright SINOX NURSERY