SISTEM KEMITRAAN PETANI SINGKONG DAN KOPERASI UNTUK MENSEJAHTERAKAN PETANI


Oleh : Ir. H. Dian Kusumanto
Dengan Agribisnis singkong yang terpadu akan dapat menciptakan kepastian hasil usaha dan pendapatan, bisa menyediakan alternative pakan bagi usaha peternakan Sapi, menyediakan sumber pupuk organic yang gratis dan keuntungan-keuntungan lainnya. Agribisnis SIngkong yang dilakukan secara terpadu dengan industry pengolahan tepung mocaf, peternakan Sapi dan industry kecil menengah Pupuk Organik, akan secara sinergis membuat petani lebih maju, mandiri dan sejahtera. Dan usaha yang terpadu yang melibatkan beberapa pihak akan berjalan lebih sinergis, saling menguntungkan dan dapat memaksimalkan seluruh sumber daya yang ada,
Pada tahun 2008 yang lalu saya pernah menulis tentang keberadaan suatu Kelompok Tani yang berada di Pulau Nunukan, namanya Kelompok Tani Hijau Lestari. Waktu itu saya sangat akrab dengan kelompok ini karena saya sering mengunjungi mereka, dan beberapa pengurusnya juga sering bertemu di kantor maupun di rumah. Dari seringnya bertemu itulah suatu saat muncul cetusan ide tentang bagaimana memulaiprogram untuk mensejahterakan petani di Nunukan ini akan diwujudkan.
Betapa tidak, di kelompok tani ini ada 25 orang anggotanya, lahan kering yang dimiliki oleh seluruh anggotanya sekitar 50 hektar dan lahan basahnya yang berupa sawah tadah hujan dan sebagian beririgasi setengah teknis ada sekitar 20 hektar. Namun demikian keadaan kesejahteraan mereka sangat sederhana. Mereka mengaku bahwa rata-rata pendapatan per bulannya hanya sekitar Rp 500.000 sampai Rp 700.000. Itu pun tidak mereka terima setiap bulannya. Memang demikianlah adanya, karena belum semua lahannya bisa tergarap. Lahan yang tergarap dengan tanaman semusim pun belum tentu berhasil. Inilah yang kemudian menjadikan mereka seperti tidak berdaya mengelola sumberdaya yang ada.
Bukannya mereka malas? Bukan, mereka tidak malas, karena saya tahu hampir tiada hari tanpa turun ke lahan mereka. Malah mereka merasa kekurangan waktu, karena selain harus ke ladangnya (lahan kering) mereka juga harus ke lahan sawahnya.Sebagian mereka juga mengurusi ternak berupa Sapi, kambing ataupun Unggas.Mereka termasuk sangat rajin, namun ternyata kerja keras mereka belum bisa merubah nasibnya, paling tidak sampai saat ini saat tulisan ini And abaca. Sekarang ini kita di pertengahan tahun 2011, awal bulan Juni. Berarti sudah sekitar 3 (tiga) tahun, dan keadaan kelompok tani tersebut belum ada perubahan yang signifikan.
Itu akan lain seandainya scenario pemikiran saya waktu itu bisa dilakukan. Lalu bagaimana rencana waktu itu?
Kelompok Tani Hijau Lestari ini diskenariokan bekerja sama dengan suatu Koperasi yang bergerak di bidang usaha Agribisnis Singkong secara terpadu. Usaha koperasi inimeliputi :
1. Pembelian Singkong segar dari petani
2. Pengolahan Ubikayu menjadi Tepung Mocaf
3. Peternakan Sapi dengan pakan utama dari limbah Singkong
4. Produksi Pupuk Organik dan Pestisida Nabati dari limbah ternak Sapi
5. Mengelola Biogas dari limbah ternak Sapi
6. Usaha simpan pinjam
7. Kios Saprodi dan Sembako
8. Dll.
Skema kemitraan dengan kelompok tani adalah sebagai berikut :
1. Semua petani yang menjadi anggota Kelompok Tani otomatis menjadi anggota koperasi.
2. Usaha koperasi ini berbasis pada lahan usaha kelompok tani yang berupa lahan kering, yaitu seluas 50 hektar dengan pola kerja sama bagi hasil atau sewa atau kontrak pembelian.
3. Para petani sepenuhnya akan menjadi karyawan koperasi untuk mengelola lahan mereka sendiri dengan manajemen koperasi.
4. Komoditi yang diusahakan adalah Singkong untuk produksi Tepung Mocaf.
5. Koperasi mengelola Pabrik Pengolahan Tepung Mocaf, Peternakan Sapi, Pabrik Pupuk Organik dan Pestisida Nabati, dengan memaksimalkan peran serta para petani sebagai karyawan dengan kapasitas yang disesuaikan kemampuannya.
6. Para petani sepakat melakukan kerjasama ini minimal selama 10 tahun.
7. Kerjasama ini diawasi oleh Pemerintah Daerah secara berjenjang dan dibina oleh instansi terkait yang membidanginya.
Lalu apa saja yang akan dihasilkan dari Sistem Kemitraan antara Koperasi dan Kelompok tani dengan lahan usaha seluas 50 hektar ? Kita harus menggunakan beberapa asumsi dulu, yaitu :
1. Produktifitas lahan SIngkong adalah 60-90 ton per hektar per musim (6-9 bulan), atau rata-rata 10 ton/ha/bulan.
2. Limbah kulit singkong rata-rata sebanyak 30 % dari berat ubi.
3. Jumlah pakan limbah untuk setiap ekor Sapi adalah 25 kg pakan/hari/ekor
4. Rendemen Tepung Mocaf dari ubi Singkong rata-rata 25 %.
5. Rasio luas lahan singkong dan jumlah Sapi yang bisa dipelihara dengan pakan dari limbah lahan Singkong adalah 1 hektar dibanding dengan 4 ekor Sapi, atau 4 ekor Sapi/ha.
6. Jumlah limbah padat kering 5 kg/ekor Sapi, dan limbah cair urine Sapi sekitar 5 liter/ekor/hari.
7. Harga pupuk organic padat kering Rp 1.000/kg, harga pupuk organic cair dari urine Sapi Rp 2.000/liter.
8. Penambahan berat badan Sapi sekitar 0,8 kg/ekor/hari
9. Harga berat hidup sapi sekitar Rp 25.000/kg berat hidup
10. Harga ubi Singkong tingkat kebun Rp 300/kg
11. Harga Tepung Mocaf tingkat pabrik Rp 3.500/kg
Produk dari Sistem Agribisnis Singkong Terpadu seluas 50 ha lahan Singkong, 200 ekor Sapi dengan Pabrik Tepung Mocaf kapasitas menyesuaikan, dll. ini adalah :
1. Setelah mulai panen Singkong maka kapasitas produksi ubi rata-rata adalah sekitar 500 ton/bulan, atau 16.666 kg/hari.
2. Nilai pendapatan petani dari ubi Singkong dengan harga tingkat kebun adalah sebesarRp 150 juta/bulan atau Rp 5 juta/hari.
3. Produksi limbah kulit singkong segar 150 ton/bulan atau 5 ton/hari.
4. Jumlah Sapi yang bisa dikelola dengan pakan limbah singkong adalah 200 ekor, dengan total penambahan berat badan 160kg, dengan total nilai penambahan harga berat hidup Rp 4 juta/hari.
5. Produksi Tepung Mocaf sekitar 125 ton/bulan, atau 4.166 kg/hari
6. Nilai pendapatan Koperasi dari Tepung Mocaf dengan harga tingkat Pabrik adalah sebesar Rp 437,5 juta/bulan atau Rp 14,583 juta/hari.
7. Jumlah produksi pupuk organic padat sebesar 1.000 kg/hari, dengan nilai Rp 1 juta/hari.
8. Sedangkan pupuk organic cair sebesar 1.000 liter/hari senilai Rp 2 juta/hari.

9. Dll.
Tabel Nilai perolehan hasil dari Kemitraan Sistem Agribisnis Singkong-Mocaf-SapiTerpadu skala 50 hektar antara petani dan koperasi
No.
Asal sub systemkegiatan
Pihak
Petani
(Rp /hari)
Pihak
Petani
(Rp/bulan)
Pihak
Koperasi
(Rp /hari)
Pihak
Koperasi
(Rp /bulan)
1.
Panen Ubi Singkong
5 juta
150 juta
-
-
2.
Produksi Tepung Mocaf
-
-
14,583 juta
437,5 juta
3.
Nilai penambahan berat hidup Sapi
-
-
4,0 juta
120,0 juta
4.
Nilai pupuk organic padat
-
-
1,0 juta
30,0 juta
5.
Nilai pupuk organic cair
-
-
2,0 juta
60,0 juta
JUMLAH
5 juta
150 juta
21,583 juta
437,5 juta
Keterangan : Nilai perolehan tersebut belum dikurangi dengan biaya produksi, biaya operasional, dll.
Dari proyeksi perhitungan di atas terlihat proporsi perolehan petani lebih kecil dibandingkan perolehan koperasi. Sebaliknya nilai perolehan koperasi kelihatan besar.Hal tersebut terjadi karena hal-hal sebagai berikut :
1. Nilai perolehan tersebut masih kotor, belum dikurangi biaya-biaya seperti biaya produksi, biaya operasional, pembelian bahan baku, biaya tenaga kerja serta biaya penyusutan, dll. Pihak Petani memperoleh Rp 150 juta/bulan/50 hektar lahan atau sebesar Rp 3 juta/bulan/hektar. Kalau rata-rata kepemilikan lahan 2 hektar/petani, maka rata-rata perolehan setiap petani adalah Rp 6 juta/bulan/2 hektar. Seandainya biaya-biaya yang dikeluarkan petani itu 1/3 bagian dari jumlah perolehan, maka perolehan bersih petani dari budidaya Singkong mereka adalah Rp 4 juta/bln/2 hektar atau Rp 2 juta/bln/ha.
2. Perolehan petani memang terutama adalah dari sisi budidaya singkong saja, namun tidak menutup kemungkinan bahwa petani juga bisa berpartisipasi pada kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh koperasi, baik sebagi karyawan atau sebagai mitra kerja,apakah itu di Pabrik Mocaf, di Peternakan Sapi atau di Unit Pengolahan Limbah, Pupuk & Pestisida Nabati serta Unit-unit lain yang dimiliki oleh Koperasi. Unit-unit lain yang dimaksud seperti : Unit Simpan Pinjam, Unit Toko Sembako dan Saprodi, Unit Bengkel, dll.
3. Kalau misalnya dari kegiatan-kegiatan di koperasi petani juga melibatkan diri, artinya petani masih mungkin untuk meningkatkan pendapatannya. Sebagai contoh bila petani diserahi untuk pemeliharaan Sapi dengan pola bagi hasil, tentu petani tersebut akan memperoleh tambahan penghasilan. Apalagi bila ada lagi kegiatan lain dari koperasiseperti pengangkutan hasil panen, pengupasan ubi singkong, operator mesin pabrik, dan lain-lain, tentu akan semakin menambah pendapatan hasil usahanya itu. Jadi tergantung kepada petani, jenis usaha dan kegiatan apa yang akan dimasukinya. Hal tersebut bisa terjadi karena para petani adalah juga anggota koperasi dan berhak untuk juga berpartisipasi dalam jenis-jenis usaha koperasi.
4. Sedangkan nilai perolehan koperasi tinggi karena masih berupa perolehan kotor dan belum dikurangi biaya-biaya, seperti :
a. Pembelian ubi Singkong dari petani
b. Biaya panen dan angkutan ubi dari kebun ke pabrik
c. Biaya prosesing mulai dari pengupasan, pencucian, perajangan, proses fermentasi, penirisan, proses pengeringan chip, penepungan sampai pengemasan, penggudangan sampai proses marketingnya.
d. Demikian juga pada kegiatan-kegiatan koperasi lainnya seperti pemeliharaan ternak Sapi yang menggunakan banyak tenaga kerja dan biaya operasional lainnya.
e. Dst.

Jika diasumsikan bahwa biaya-biaya itu secara keseluruhan unit itu mencapai70-80 % dan nilai margin usaha itu 20-30%. Maka nilai perolehan bersih darikoperasi sekitar Rp 4,32 - 6,47 juta/hari atau sekitar Rp 129,5 juta sampai Rp 194,2 juta/bulan. Dari hasil ini maka koperasi akan semakin berkembang dan petani yang masuk di dalam system kemitraan tersebut akan turut maju dan berkembang serta lebih sejahtera.
Apakah hitungan-hitungan di atas ada yang masih dipertanyakan? Bagaimana menurut Anda?
Read More

JUAL FILTER AIR KOLAM IKAN

berbahan fiberglass harga Rp 2.500.000,-
ukuran panjang 105 cm lebar 55 cm tinggi 60 cm
sudah termasuk bioblok kassa, zeolit, bioball, tutup atas
belum termasuk pompa air dan ongkos kirim






siap kirim

pipa input 2 inchi


isi filter



Gambar diatas sebuah filter kolam ikan yang di buat dari bahan fiberglass pilihan. mempunyai keunggulan awet, mudah di pasang, sangat mengurangi resiko kebocoran atau anti bocor, mudah dibersihkan dan yang paling penting hasil filtrasinya sangat jernih
 Bak Pertama (paling kiri , berbentuk semi kerucut) merupakan sistem vortex. Gunanya adalah untuk memutar air yang masuk dari kolam utama, sehingga menciptakan suasana kondusif agar proses sedimentasi partikel terjadi. Penyaringan secara fisik aktif ini diharapkan akan sudah sangat mengurangi partikel-partikel pengotor, sebelum masuk kedalam bak berikutnya.

Bak kedua adalah bak filtrasi fisik, apapun boleh dimasukan kesana salama dia bisa berfungsi sebagai penyaring fisik, seperti filter mat, kapas sintetis dan sejenisnya.

Dua bak berikutnya adalah bak filtrasi biologis, isinya bisa apa saja yang mampu berfungsi sebagai media pertumbuhan bakteri pengurai (dengan syarat utama mempunyai luas permukaan besar), seperti: bioball, ijuk, kerikil, pasir zeolit, dan sejenisnya.        Berikutnya, bila diperlukan, bisa difungsikan sebagai filter kimia dan sekaligus ruang pompa. Itu kurang lebih gambaran umumnya. Semoga membantu untuk membangkitkan ide-ide lain.


bioblok kassa
batu zeolit

bioball


Read More

Jual Bibit Singkong Manggu Rp 500,- per batang stek

Jual Bibit Singkong Manggu

Kami menjual komoditi
BIBIT SINGKONG MANGGU

Spesifikasi:
Ukuran
1. Standar per batang BIBIT SINGKONG MANGGU adalah 130 cm dapat dipotong-potong menjadi 6 batang STEK siap tanam. Agar menjaga Kondisi tetap FRESH selama dalam Perjalanan sekalipun Jarak Jauh, u/ mengurangi Resiko Kegagalan pada saat Penanaman.
2. BIBIT SINGKONG MANGGU dikemas dalam suatu 'Ikatan' yang berisi masing-masing 25 batang Standar. Agar dapat mempermudah dalam urusan Bongkar - Muat serta penghitunganya.
3. Potensi Hasil rata-rata 90 Ton/ hektar
4. Tahan Hama dan Penyakit
5. Batang besar, kokoh dan kuat

Harga: Rp 500/ batang stek + Ongkos Kirim

Lokasi Bibit : di gunungpati Semarang jawa tengah

Kontak Personal:
Guntoro 081 229 231 277 dan 085 727 054 383

Bagi rekan- rekan yang membutuhkan komoditi tersebut silahkan menghubungi kami melalui kontak yang tersedia.

Terima kasih
Read More

PEMBUATAN TAMAN (TUKANG TAMAN )

KAMI MENGERJAKAN
-Taman Bergaya Minimalis
-Taman In Dor/ Out Dor
-Taman Kering
-Taman Perumahan
-Lapangn Mini Golf
-Saung
-Gazebo
-Kolam Minimalis Batu Alam
-Kolam Ikan Hias
-Relief Tebing Buatan

KAMI ADALAH SOLUSI YANG TEPAT UNTUK TAMAN ANDA
Read More

Kapulaga.

Kapulaga.
Salah satu tanaman rempah-rempah yang memiliki potensi yang menjanjikan adalah Kapulaga. Pada awalnya Kapulaga merupakan tanaman rempah-rempah yang tumbuh liar di hutan–hutan Indonesia. Karena mempunyai berbagai manfaat dan digemari banyak orang kemudian Kapulaga mulai dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia. Buah Kapulaga merupakan salah satu sumber minyak atsiri yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan, minyak gosok, bumbu masak dan kosmetika sehingga Kapulaga memiliki prospek pasar yang sangat luas.
Saat ini Kapulaga memiliki peluang yang besar untuk menjadi komoditas unggulan bagi para pelaku usahatani. Potensi pasar dalam negeri dan luar negeri dari Kapulaga masih terbuka lebar. Untuk potensi pasar dalam negeri dapat dilihat dari adanya kebiasaan masyarakat Indonesia dalam meminum jamu. Survey perilaku konsumen dalam negeri menunjukkan 61,3 persen responden mempunyai kebiasaan meminum jamu tradisional (http://heropurba.blogspot.com/2012). Ini adalah potensi besar untuk mengembangkan pasar domestik dari produk biofarmaka seperti Kapulaga.
Melihat pasar baik domestik maupun luar negeri yang masih begitu terbuka lebar maka potensi dari pembudidayaan Kapulaga memang cukup menjanjikan. Dilihat dari karakteristik habitatnya, Kapulaga merupakan tanaman yang cocok untuk dibudidayakan di Indonesia yang iklim tropis. Kapulaga akan tumbuh dengan baik pada daerah dengan ketinggian antara 200-1000 meter diatas permukaan laut dengan curah hujan yang cukup tinggi yaitu antara 2.000 – 4.000 mm/tahun dan suhu udara yang berkisar antara 20-340 C (http://www.scribd.com/budidaya-kapulag). Sehingga berdasarkan karakteristik habitatnya Kapulaga memiliki potensi yang besar untuk dapat dikembangkan dengan baik di Indonesia.
Sebagai salah satu komoditas pertanian yang potensial Kapulaga diharapkan mampu menjadi salah satu komoditas unggulan indonesia. Namun dilihat dari jumlah produksi, produktivitas maupun kualitas dari Kapulaga yang dihasilkan ternyata saat ini masih tergolong rendah. berdasarkan kondisi riel yang terjadi di lapangan hal ini terjadi akibat masih terbatasnya pengetahuan dan informasi yang diperoleh petani mengenai teknik budidaya yang baik dan benar (Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan, 2011).
Pengembangan tanaman Kapulaga sebagai salah satu komoditas pertanian yang potensial pada akhirnya harus bermuara pada peningkatan perekonomian dan kesejahteraan petani, sehingga perlu diketahui gambaran mengenai bagaimana kelayakan usahatani Kapulaga dilihat dari aspek finanasialnya. Dalam era pertanian modern yang berbasis perdagangan global seperti saat ini aspek finansial merupakan hal yang sangat penting untuk dianalisa. Namun saat ini informasi yang dapat diperoleh oleh petani mengenai hal tersebut masih sangat terbatas, sehingga perlu adanya studi yang mendalam mengenai bagaimana kelayakan usahatani Kapulaga dilihat dari aspek finansialnya.
Sejalan dengan masih terbatasnya informasi mengenai teknik budaya Kapulaga yang benar serta terbatasnya informasi mengenai kelayakan usahatani Kapulaga dilihat dari aspek finasialnya, maka penulis menganggap perlu adanya studi yang mendalam mengenai hal tersebut berdasarkan kondisi riel yang terjadi di lapangan.

A. Aspek Teknis Budidaya Kapulaga
1. Persiapan Lahan
Pengolahan lahan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam budidaya Kapulaga. Pengolahan lahan pada budidaya Kapulaga yang dilakukan oleh responden meliputi penggemburan tanah, pembuatan drainase dan pembutan lubang tanam. Menurut Hieronymus Budi Santoso (1991), Pada umumnya Kapulaga akan tumbuh dengan baik pada tanah dengan kondisi yang gembur d n n d r j t k s m n s k t r 5−6,8 d n k y k n b h n or n k. S l n tu Kapulaga tidak tahan terhadap kekeringan dan genangan air sehingga memerlukan drainase yang baik.
2. Pemilihan Bibit dan Waktu Tanam
Bibit yang digunakan oleh responden dihasilkan dari pembiakan secara vegetatif yaitu dengan cara mengambil tunasnya. Untuk mendapatkan anakan yang baik perlu diperhatikan beberapa hal seperti tanaman induk sudah berumur minimal 1 tahun dan anakan atau tunas yang hendak dijadikan bibit harus sudah memiliki 3-5 helai daun serta sudah memiliki satu atau dua bakal tunas, tujuannya agar Kapulaga dapat tumbuh dengan cepat dan segera menghasilkan tunas baru.
3. Penanaman
Penanaman Kapulaga dilakukan sekitar dua minggu setelah pengolahan lahan selesai dan sebaiknya dilakukan pada awal musim penghujan atau sekitar Bulan Oktober atau November mengingat tanaman ini sangat rentan terhadap kekeringan. Meskipun demikian menurut keterangan responden penanaman diluar musim penghujan dapat saja dilakukan namun harus disertai dengan penyiraman setiap pagi dan sore untuk menjaga kelembaban tanahnya.
4. Penyiangan dan Penggemburan Tanah
Penyiangan dilakukan dengan tujuan untuk mencegah pertumbuhan gulma yang dapat menimbulkan adanya kompetisi dalam penyerapan unsur hara antara tanaman Kapulaga dengan gulma atau pun menjadi penyebab datangnya hama dan penyakit yang menjadikan gulma sebagai inangnya. Penyiangan dalam budidaya Kapulaga khususnya dilakukan pada saat rumpun Kapulaga masih sedikit yaitu pada tahun-tahun pertama sejak penanaman karena ketika rumpun telah rimbun
pertumbuhan gulma dapat terhambat dengan sendirinya. Untuk proses penyiangan pada budidaya Kapulaga dilakukan sebanyak empat kali per tahun bersama dengan proses pemangkasan batang tua dan penggemburan tanah.
Penggemburan tanah dilakukan untuk mempermudah perkembangan akar sehingga dapat menunjang terhadap pertumbuhan tanaman secara optimal. Aplikasi penggemburan tanah dilakukan sebanyak empat kali per tahun bersama penyiangan, kegiatan ini dilakukan sebelum proses pemupukan.
5. Pemupukan
Tabel 8. Biaya Investasi Usahatani Kapulaga
No
Uraian
Volume
Satuan
Harga/Satuan (Rp)
Jumlah (Rp)
1
Pembelian bibit Kapulaga
2.800
Batang
1.000
2.800.000
2
Pembelian bibit Albasiah
56
Batang
1.000
56.000
3
Tenaga Kerja
150
HOK
17.000
2.550.000
4
Pembelian pupuk kimia
1.680
Kg
2.000
3.360.000
5
Pembelian pupuk organik
2.800
Kg
1.000
2.800.000
6
Pembelian ZPT (80 ml)
1
Buah
42.000
42.000
7
Pembelian Pestisida
2
Kg
14.000
28.000
8
Pembelian Peralatan
1
Paket
610.000
610.000
9
Pembuatan Oven
1
Unit
2.000.000
2.000.000
Total
-
-
-
14.246.000
Pemupukan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam budidaya tanaman termasuk budidaya Kapulaga karena pemupukan terkait langsung dengan pemenuhan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Sejak pengolahan lahan pemberian pupuk dasar merupakan langkah awal untuk memberikan cadangan nutrisi bagi Kapulaga.
Pemupukan rutin untuk tanaman Kapulaga yang dilakukan oleh responden dilakukan sebanyak empat kali dalam satu tahun, namun untuk pemupukan pada tahun pertama penanaman memiliki waktu dan dosis pemberian pupuk yang berbeda dengan pemupukan rutin berikutnya.
6. Pemangkasan Batang Tua
Perkembangan tanaman Kapulaga Sabrang Varietas Malabar seperti yang diusahakan responden relatif cepat yaitu mencapai 3–4 tunas baru per bibit per tahunnya, namun masa produktif batang hanya sekitar 2–2,5 tahun sehingga perlu dilakukan pemangkasan terhadap batang yang sudah tidak produktif untuk merangsang pertumbuhan tunas-tunas baru yang menghasilkan tandan buah. Pemangkasan batang tua dilakukan bersamaan dengan proses penyiangan dan penggemburan tanah.
Pemangkasan batang tua harus dilakukan dengan teliti dan hati-hati karena batang yang harus dibersihkan adalah batang yang sudah benar-benar mati sehingga tidak mengganggu terhadap proses pertumbuhan buah dan pertumbuhan batang yang lain, selain itu dalam aplikasinya juga harus dilakukan dengan hati-hati mengingat biasanya batang yang sudah tidak produktif atau mati berada di tengah rumpun.
7. Pengendalian Hama dan Penyakit
Saat ini masih jarang ditemui kasus-kasus yang menghawatirkan yang diakibatkan oleh serangan hama dan penyakit terhadap tanaman Kapulaga, dengan kata lain tingkat dan frekuensi serangan hama dan penyakit tanaman Kapulaga relatif rendah. Meskipun demikian responden dalam penelitian ini tetap melakukan antisipasi dengan melakukan pemberian pestisida sebagai penanggulangan terhadap serangan hama dan penyakit yang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman Kapulaga. Aplikasi pestisida dilakukan bersama dengan aplikasi pupuk urea dengan dosis 2 Kg untuk lahan seluas 5.600 m2.
Hieronymus Budi Santoso (1991) mengungkapkan, hama yang mungkin menyerang tanaman Kapulaga adalah kutu, ulat pemakan daun, penggerek batang, penggerek buah dan kumbang pemakan daun. Untuk mengendalikannya dapat digunakan insektisida sesuai dengan anjuran. Adapun untuk penyakit yang dapat menyerang tanaman Kapulaga antara lain penyakit Mozaik, penyakit busuk daun dan penyakit busuk akar. Berbagai penyakit yang dapat menyerang tanaman Kapulaga umumnya disebabkan oleh cendawan, secara kualitatif dapat dikendalikan dengan fungisida sesuai anjuran dan sebagai tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari tanaman dalam kondisi tergenang oleh air.
8. Pemanenan
Waktu dan cara pemanenan akan berpengaruh terhadap mutu buah atau biji Kapulaga yang dihasilkan sehingga waktu dan cara pemanenan harus dilakukan dengan benar agar mutu produksi yang dihasilkan berkualitas baik.
Panen pertama untuk Kapulaga Sabrang varietas Malabar seperti yang diusahakan responden dimulai sejak umur 8 bulan atau sesuai dengan musim panen yaitu sekitar bulan September atau Oktober. Adapun beberapa ciri dari buah Kapulaga siap panen adalah sebagai berikut:
 Sisa mahkota bunga telah kering dan gugur
 Buah sudah berwarna kuning pucat atau ungu pucat
 Kulit buah sudah sedikit berkerut
 Untuk buah yang sudah tua sekali bijinya akan mudah lepas dari tandan
Setelah tanda-tanda panen diketahui maka cara panen Kapulaga adalah dengan memotong tangkai tandan buah tepat dibawah dompolan buah paling bawah dengan menggunakan pisau tajam, setelah itu tandan-tandan buah tersebut dikumpulkan dan kemudian buah dipipil dari tandan.
Masa panen Kapulaga varietas Malabar ini berlangsung secara bertahap selama jangka waktu sekitar empat bulan atau jika masa awal panen biasanya berlangsung pada bulan September maka akan berakhir pada akhir bulan Desember. Untuk menjaga kualitas dan kuantitas hasil yang optimal, pemanenan dilakukan hanya pada buah yang sudah memenuhi kriteria kematangan yang sesuai.
9. Pengeringan
Buah yang telah dipipil dari tandan kemudian dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari atau dikeringkan dengan oven pengering. Jika pengeringan dilakukan dengan sinar matahari pada intensitas penyinaran seperti musim kemarau maka akan berlangsung selama sekitar 4-5 hari sedangkan jika dengan oven pengering hanya berlangsung sekitar 2 hari. Buah Kapulaga dikeringkan hingga kadar air mencapai 15-20 persen, atau biasanya dari 10 Kg kapulaga basah akan menjadi sekitar 2 Kg Kapulaga kering. Responden dalam penelitian ini menggunakan oven pengering dalam proses pengeringan sehingga proses pengeringan berlangsung lebih cepat.
B. Aspek Finansial Budidaya Kapulaga
Analisis kelayakan finansial yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelayakan finansial dengan menggunakan kriteria (NPV, Net B/C, IRR) dan Payback Periods.
1. Biaya Investasi
Sesuai dengan konsep dari Abdul Choliq, dkk. (1994) yang menyatakan bahwa biaya investasi adalah biaya yang dikelurkan mulai dari proyek tersebut dilaksanakan sampai proyek tersebut menghasilkan maka biaya investasi
3. Penerimaan
Penerimaan merupakan hasil kali antara jumlah produksi dengan harga jual. Dalam penelitian ini penerimaan bersumber dari penjualan Kapulaga kering dan penerimaan dari input lain berupa penjualan kayu Albasiah sebagai pohon naungan pada akhir periode proyek.
Kapulaga Sabrang varietas Malabar mulai berbuah sejak umur 8 bulan setelah tanam. Berdasarkan keterangan dari responden diketahui bahwa puncak produksi terjadi pada tahun ke-4 dan ke-5 proyek dengan produktifitas rata-rata per rumpun mencapai 1,25 Kg Kapulaga basah. Adapun data lebih lengkap mengenai jumlah produksi Kapulaga per tahun dan penerimaan yang diperoleh tersaji dalam Tabel 10.
Tabel 10. Jumlah Produksi per Tahun dan Jumlah Penerimaan Usahatani Kapulaga
NoTabel 10. Jumlah Produksi per Tahun dan Jumlah Penerimaan Usahatani Kapulaga

Hasil produksi dijual dalam bentuk Kapulaga kering dengan nilai penyusutan sebanyak 80 persen atau dari 1 Kg Kapulaga basah akan menjadi 200 gr Kapulaga kering. Responden biasanya melakukan penjualan ke pengepul tingkat desa, adapun harga jual Kapulaga kering yang berlaku pada saat dilakukan penelitian adalah sebesar Rp. 40.000/Kg sehingga total penerimaan dari penjualan Kapulaga selama umur proyek yang diperoleh oleh responden dalam penelitian ini adalah sebesar Rp. 76.200.000.
Nilai jumlah produksi diketahui berdasarkan hasil wawancara dengan renponden. Puncak produksi berlangsung pada tahun ke-4 dan ke-5 proyek dengan produksi mencapai 3.500 Kg Kapulaga basah atau mencapai rata-rata 1,25 Kg per rumpun. Produktivitas rata-rata Kapulaga Sabrang vaietas Malabar mencapai 4,2-4,5 ton per Ha (http://www.bisnisukm.com). Jika dilihat dari produksi tertinggi yang diperoleh oleh responden maka produktifitas dari Kapulaga yang dibudidayakannya lebith tinggi dari produktifitas rata-rata yaitu mencapai 6,25 ton per Ha. Hal ini menunjukkan bahwa dilihat dari aspek teknik budidayanya responden telah mampu mengelola usahataninya dengan baik.
Pada tahun ke-5 proyek, diperoleh nilai input lain yang berasal dari penjualan kayu Albasiah sebagai pohon naungan. Jarak tanam pohon naungan di lokasi penelitian adalah 10 × 10 meter, dengan lahan seluas 5.600 m2 maka jumlah pohon naungan yang ditanam oleh responden adalah sebanyak 56 pohon. Harga jual rata-rata dari kayu Albasiah dikalangan petani pada umur 5-6 tahun yang berlaku di daerah penelitian adalah sebesar Rp. 300.000/pohon sehingga total pendapatan dari input lain yang diperoleh responden adalah Rp. 16.800.000.
4. NPV, Net B/C, dan IRR
Suku bunga pinjaman yang berlaku saat penelitian adalah sebesar 10 persen. Suku bunga yang digunakan adalah suku bunga pinjaman dari Bank BRI yang brelaku pada tahun 2012 (http://www.bi.go.id/web/2012). Besarnya NPV, Net B/C, dan IRR yang diperoleh dari usahatani Kapulaga untuk jumlah rumpun sebanyak 2.800 rumpun pada lahan tanam seluas 5600 m2 dengan periode produksi selama 5 tahun dapat dilihat pada Tabel 11 menunjukkan, bahwa pada Discount Factor sebesar 10 persen per tahun usahatani Kapulaga untuk skala usaha seperti yang diusahakan oleh responden mempunyai nilai Net Present Value (NPV) positf sebesar Rp. 328.509. Nilai tersebut menunjukkan bahwa pada tingkat suku bunga pinjaman sebesar 10 persen responden masih dapat memperoleh keuntungan sebesar Rp. 328.509.
Hasil perhitungan Net Benefit of Cost Ratio (Net B/C) diperoleh nilai sebesar 1,01. Ini menunjukkan bahwa setiap Rp 1,00 modal yang dikeluarkan pada usahatani Kapulaga akan memperoleh benefit atau penerimaan sebesar Rp 1,01. Nilai Internal Rate of Return (IRR) menunjukkan tingkat kemampuan proyek dalam mengembalikan pinjaman. Nilai IRR dari proyek yang diusahakan oleh responden adalah sebesar 10,48 persen, hal ini berarti bahwa tingkat bunga maksimum yang dapat dibayar oleh responden adalah sebesar 10,48 persen per tahun, dengan kata lain nilai IRR yang diperoleh lebih tinggi dari tingkat suku bunga yang berlaku pada saat penelitian yaitu sebesar 10 persen. Untuk lebih jelasnya mengenai perhitungan analisis finansial dapat dilihat pada Lampiran 5.
Berdasarkan hasil perhitungan kelayakan finansial dengan menggunakan kriteria NPV, Net B/C, dan IRR menunjukkan bahwa usahatani Kapulaga yang diusahakan oleh responden masih layak untuk diusahakan. Meskipun demikian, jika mengacu pada suku bunga pinjaman Bank BRI pada tingkat suku bunga sebesar 13 persen maka proyek tersebut tidak layak lagi untuk diusahakan, hal ini menunjukkan bahwa usahatani Kapulaga yang diusahakan oleh responden memiliki tingkat kerawanan yang tinggi terhadap kerugian.
Dilihat dari tingkat produksi maupun produktivitas dari usahatani Kapulaga yang diusahakan oleh responden sebenarnya responden telah mampu mengelola usahataninya dengan baik, namun akibat beberapa faktor seperti masih relatif rendahnya harga jual mengakibatkan rendahnya tingkat kelayakan finansial dari usahatani tersebut. Selain itu beberapa penggunaan sumber daya seperti penggunaan pupuk sebenarnya mungkin saja dapat lebih diefisienkan sehingga dapat mengurangi tingginya biaya operasional dan meningkatkan tingkat kelayakan usaha.
Langkah antisipasi yang dapat dilakukan untuk mengatasi kerawanan tersebut adalah dengan meningkatkan harga jual. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan harga jual adalah dengan mengoptimalkan peranan kelompok tani yang telah dibentuk, kelompok tani tersebut harus menjadi wadah yang mampu membentuk jaringan langsung dengan pedagang besar ataupun eksportir sehingga harga jual produk ditingkat petani dapat lebih tinggi dan masalah fluktuasi harga yang merugikan petani dapat diantisipasi dengan baik.
Upaya lain yang dilakukan untuk mengatasi masalah fluktuasi harga yang merugikan petani adalah dengan melibatkan peran pemerintah, diantaranya dengan cara memberikan kredit pinjaman dengan bunga yang rendah kepada petani atau pun dengan memberikan pembinaan tentang pengolahan hasil yang baik dan benar agar kualitas hasil produksi dapat sesuai dengan kriteria mutu internasional sehingga nilai harga jual pun dapat ditingkatkan.
5. Payback Periods
Payback periods merupakan perhitungan untuk mengetahui jangka waktu yang dibutuhkan untuk pengembalian modal yang diinvestasikan dari suatu proyek melalui keuntungan yang diperoleh dari proyek tersebut. Perhitungan payback periods dilakukan dengan menghitung Net Benefit Kumulatif.
Hasil perhitungan payback periods menunjukan bahwa jangka waktu pengembalian modal yang dibutuhkan dalam usahatani Kapulaga adalah 54 bulan atau 4 tahun 6 bulan. Hal ini berarti bahwa modal yang diinvestasikan dalam kegiatan usahatani Kapulaga baru dapat dikembalikan setelah umur proyek berlangsung 4 tahun 5 bulan bulan. Rincian lebih jelas mengenai perhitungan payback periods dapat dilihat pada Lampiran 6.
6. Sensitivity Analysis
Analisis Sensitivitas bertujuan untuk melihat apa yang akan terjadi dengan hasil proyek jika ada suatu kekeliruan dan ketidaktepatan perkiraan biaya dan benefit yang telah diproyeksikan, seperti terjadi kenaikan biaya operasional dan penurunan harga jual produk, sehingga menurunkan benefit dan lain-lain.
Analisis Sensitivitas dalam penelitian ini hanya dilakukan dengan simulasi penurunan harga jual Kapulaga kering sebesar 10 persen. Hal ini didasarkan atas keterangan responden yang menyatakan bahwa harga terendah dari Kapulaga kering yang pernah terjadi adalah sebesar Rp. 36.000/Kg dan tidak ada perubahan yang signifikan dari meningkatnya biaya oprasional selama proyek berlangsung baik dari harga pupuk maupun upah tenaga kerja.
Tabel 12. Simulasi Penurunan Harga Jual Kapulaga terhadap Indikator Kelayakan Usahatani Kapulaga
Penurunan Harga Jual
Indikator Kelayakan
NPV
Net B/C
IRR (%)
Aktual
Rp. 328.509
1,01
10,48
10 %
(Rp. 4.799.091)
0,82
5,1
Simulasi apabila terjadi penurunan harga jual sebesar 10 persen pada Discount Factor 10 persen ternyata mengakibatkan kerugian sebesar Rp. 4.799.091. Tabel 12 juga menunjukkan bahwa pada simulasi penurunan harga 10 persen proyek hanya mampu mengembalikan kredit pada suku bunga 5,1 persen, sehingga jika terjadi penurunan harga jual sebesar 10 persen dengan tingkat bunga pinjaman sebesar 10 persen maka usahatani Kapulaga tidak layak lagi untuk diusahakan.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka kesimpulan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Secara umum teknis budidaya Kapulaga yang dilaksanakan oleh responden telah sesuai dengan anjuran dalam standar operasonal prosedur (SOP) yang berlaku.
2. Hasil analisis kelayakan finansial dengan menggunakan kriteria NPV, Net B/C, dan IRR pada Discount Factor 10% menunjukan bahwa nilai NPV sebesar Rp. 328.509, nilai Net B/C sebesar 1,01 dan IRR sebesar 10,48% serta Payback Periods selama 4 tahun 6 bulan. Sehingga dilihat dari aspek finansial usahatani Kapulaga yang dilaksanakan oleh responden masih layak untuk diusahakan.
B. Saran
Berdasarkan hasil kesimmpulan, maka saran yang dapat diberikan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Nilai dari analisis finansial usahatani Kapulaga dalam penelitian ini menunjukkan tingkat kelayakan yang kecil akibat relatif rendahnya harga jual, sehingga bagi petani direkomendasikan untuk lebih mengoptimalkan peran dan fungsi kelompok tani agar mampu menjadi wadah yang dapat membuat jaringan yang kuat dengan pedagang besar ataupun eksportir sehingga harga jual produk ditingkat petani dapat lebih tinggi.
2. Hasil analisis kelayakan finiansial menunjukan bahwa usahatani Kapulaga memiliki kerawanan yang tinggi terhadap kerugian, sehingga bagi pemerintah diharapkan dapat memberikan bantuan berupa pemberian kredit berbunga rendah atau pun memberikan bantuan berupa pembinaan untuk pengolahan hasil serta lembaga pemasaran yang mempunyai jaringan langsung dengan pasar internasional agar produk yang dihasilkan mampu bresaing dipasar internasional dan bernilai jual lebih tinggi.
3. Penelitian ini dititik beratkan pada analisis kelayakan finansial dari usahatani Kapulaga, sehingga bagi penulis selanjutnya yang tertarik untuk meneliti mengnai komoditas Kapulaga direkomendasikan untuk meneliti mengenai analisis pemasaran untuk mengetahui pola pemasarannya dan seberapa besar nilai farmer share yang diterima oleh petani sehingga diharapkan dapat ditemukan suatu solusi yang tepat untuk meningkatkan keuntungan bagi petani.
V. DAFTAR PUSTAKA
Abdul Choliq, Rivai Wirasasmita, dan Sumarna Hasan, 1999. Evaluasi Proyek. Penerbit Pionir Jaya. Bandung.
Asosiasi Petani Kapulaga, 2010. Investasi Kapulaga (Online). Tersedia: http://ciptatarunajaya.blogspot.com/2010/08/budidaya-kapulaga.html. (Agustus, 2012)
Ayu Ida Fitria, 2010. Budidaya Kapulaga (Online). Tersedia: http://www.scribd.com/ budidaya-kapulaga. (Juni, 2012).
Read More

10 Taman Paling TOP Di Dunia


1. Viceroy’s Palace Garden, India


2. Het Loo,Belanda


3. Mount Stewart, Irlandia Utara


4. Powis Castle, Wales


5. Villa Lante, Italy


6. Garden of Cosmic Speculation, Scotlandia


7. Isola Bella, Italy


8. Bodnant, Wales


9. Millennium Park, Chicago


10. Peterhof, Russia
 
 
dari berbagai sumber
Read More

whatshap

Diberdayakan oleh Blogger.

Categories

Update Harga Tanaman Terbaru 2026

SINOX NURSERY Jl. Villa Siberi, Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah Telp: 0852 9237 7579 | WA: 085 848 976 777 Email:...

Cari Blog Ini

Chat WA Sinox Nursery

CHANEL YOUTUBE SINOX NURSERY

GOOLE MAP ALAMAT KAMI

Alamat:
Jl. Villa Siberi KM.1 Gunungpati, Semarang.
WA Admin1: 085292377579 atau Admin2: 0858 4897 6777
Konsultasi Taman: 0838 6006 122 atau 089 654 271 270
Email: sinoxnursery2@gmail.com

SINOX NURSERY

“Bersama tanaman, kami bantu ciptakan hunian yang indah, segar, dan nyaman.”

Rental tanaman, toko tanaman hias , toko tanaman terdekat, tukang taman, jasa taman, sewa tanaman, rumput gajah mini, tanaman pucuk merah, tanaman kacangan, toko tanaman buah, taman pabrik, taman pom bensin

Kode Iklan Atas



© Copyright SINOX NURSERY