SINOX NURSERY
Senin, 06 Januari 2014
TREN TANAMAN LEEKWANYOU
Kamis, 02 Januari 2014
BELAJAR DARI PERKEBUNAN PISANG LUAR NEGERI
Menggiurkannya Usaha Perkebunan Pisang di Ecuador; Indonesia juga bisa!
Setiap
negara punya daya magnet sendiri, besar kecilnya magnet itu sangat
tergantung pada keunikan dan kelebihan sebuah negara ditambah dengan
pengelolaan yang baik dan promosi yang efektif. Indonesia adalah negara
dengan kumpulan keunikan dan keindahan yang tiada duanya di dunia, namun
masih sangat lemah dalam sisi pengelolaan dan promosinya, maka jangan
heran jika jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Malaysia jauh
lebih besar dan berkali lipat dari Indonesia, dan Malaysia dengan ‘Truly Asia’nya
adalah destinasi dunia yang patut diacungi jempol dari sisi promosinya
sekaligus layak ditiru oleh Indonesia, karena untuk soal keunikan dan
keindahan alam, saya rasa Indonesia tentu sangat berani bersaing dengan
Malaysia, itu yang saya baca dari banyak sumber berita di Internet.
hijaunya perkebunan pisang (http://www.mundoanuncio.ec )
tanaman pisang tumbuh dengan teratur (http://www.elmercurio.com.ec)
Jika sebelumnya saya pernah memposting tentang 5 Hal unik seputar Ecuador dan juga secret story yang pernah saya alami di Ecuador. Kali ini saya ingin mempertajamnya pada daya tarik lain dari Ecuador dari potensi usaha yang juga bisa dikembangkan di Indonesia. Karena saya yakin banyak dari pembaca kompasiana haus akan inspirasi usaha untuk bisa dilakoninya. Dan kebetulan baru saja saya sedikit ‘mengubek-ubek’ tulisan di kompasiana yang berkaitan dengan peluang usaha yang menggiurkan sekaligus prospektif untuk saya jalani nanti. Saya memasukkan kata ‘sukses beternak’ di menu pencarian artikel kompasiana. Dan beberapa tulisan dengan judul yang menarik pun tersaji berkaitan dengan usaha beternak, diantaranya yaitu beternak kelinci, bebek peking, ikan lele, ikan nila dan sapi. Dan sayapun menyempatkan untuk membacanya karena saya juga haus akan inspirasi usaha yang nanti bisa saya tekuni. Saya ingin menghabiskan usia saya di desa dengan menjalankan usaha yang berbasis pada potensi desa. Karena panggilan jiwa saya lebih cendrung kesana. Apalah enaknya hidup di kota yang sumpek, padat, dan macet? Ditambah lagi dengan status sebagai karyawan yang harus pergi pagi pulang malam, dan begitu setiap harinya. Saya rasa hidup seperti itu seperti tawanan, dan ogaaaahhhh banget jika harus memilihnya.
Dari
sedikit penyelidikan itu ternyata saya dapati tulisan yang memuat
inspirasi usaha tingkat keterbacaannya lumayan tinggi, rata-rata diatas
500 pembaca, lumayan banget kan? Namun anehnya, jarang sekali ada yang
meninggalkan komentar di artikel tersebut apalagi terjadi dialog antar
sesama kompasianer agar materi tulisan bisa semakin berkembang. Mengapa
bisa demikian? Pastinya saya tidak tahu, namun memang sudah umum terjadi
di Kompasiana tulisan bagus dan bermanfaat terkadang lewat begitu saja
tanpa terkomentari. Karena komentar sendiri seringkali hanya berupa
ajang ‘balas-balasan’. Sehingga tulisan bagus dan menginspirasi
seringkali tidak terkomentari karena ditulis oleh orang yang ‘tidak
dikenal’ atau ditulis oleh kompasianer yang tidak pernah atau jarang
berkomentar di tulisan orang lain. Yang justru lebih mengherankan adalah
kompasianer seringkali bolak balik berkomentar di tulisan yang sama
bahkan bisa lebih dari sepuluh kali karena terlibat percekcokan dengan
kompasianer lainnya. Padahal salah satu fungsi blog yang saya ketahui
adalah untuk menambah relasi, dan blog juga memungkinkan untuk
terjadinya diskusi dan tanya jawab yang akan memberi manfaat berlipat.
Waahhh, pengantarnya jadi berkepanjangan … Well, kita mulai sekarang!
Pisang,
buah yang satu ini memang menjadi tak biasa di Ecuador, selain karena
menjadi salah satu sumber devisa utama bagi negara ini, pisang juga
menjadi asupan vitamin yang sangat bernilai bagi masyarakat Ecuador
karena masyarakat sangat gemar mengkonsumsinya. Di pasaran dalam negeri
selain karena harganya terjangkau, rasa buah pisang di Ecuador juga luar
biasa; legit, lembut dan segar. Maka tak heran bila negara yang tengah
di pimpin presiden berideologi sosialis dan didukung oleh banyak rakyat
di daerah pedesaan namun di tentang banyak penduduk kota yang cendrung
liberal ini kemudian tampil sebagai top eksportir pisang di dunia.
Ditambah lagi penampilan pisang disini menawan sekali, sangat
menggiurkan, tidak kalah berkelas dengan buah impor yang membanjiri
Indonesia.
Pisang
tidak hanya di jadikan buah konsumsi atau kripik pisang seperti yang
biasa kita temui di Indonesia. Pisang di negeri yang menginspirasi
Darwin menelurkan teori evolusinya ini, juga telah menjelma menjadi
bahan baku sup (orang sini menyebutnya sopa), ditumbuk kemudian dibentuk
seperti perkedel lalu digoreng (dikenal dengan nama Patacon).
Atau digoreng biasa tanpa tepung dan dijadikan teman nasi saat makan
disamping lauk pauk lainnya, bahkan nasi gorengpun dibeberapa restoran
dilengkapi dengan pisang goreng di sisi-sisinya. Unik bukan?
- patacon; dibebek sebelum digoreng (http://bonitisimas.blogspot.com )
Masyarakat Ecuador mempunyai beberapa sebutan untuk pisang. Pisang buah yang nikmat dikonsumsi secara langsung disebut banano atau guineo. Sedangkan pisang yang biasa diolah untuk kripik, digoreng atau diolah dalam bentuk lain disebut platano,
pisang ini kurang enak untuk dikonsumsi secara langsung karena umumnya
berasa sepat atau getir. Platano sendiri terbagi menjadi dua, yaitu platano verde untuk sebutan platano yang masih hijau dan belum masak dan platano maduro untuk yang sudah masak dan berwarna kuning. Platano verde umumnya dijadikan bahan baku kripik pisang yang terasa renyah saat dikunyah,
sedangkan platano maduro biasa dijadikan pisang bakar yang dapat
ditambahkan keju ditengahnya setelah dibakar atau langsung dimakan juga
tiada yang melarang. Maduro ini banyak di jual di kafe dan kantin makan
di pinggir jalan. Jika sore menjelang banyak kendaraan menepi dan
pengendara menyempatkan diri untuk menikmatinya di sepanjang jalan yang
menuju Naranjal dan Puerto inca.
- platano verde; untuk diolah (http://lacocinadealejandro.blogspot.com)
maduro; seperti ayam bakar saja (www.soitgar.com )
Perkebunan pisang dikelola dengan sangat baik, bahkan di perkebunan pisang (bananera)
yang luas, pemberian pupuk dan obat-obatan di lakukan oleh pesawat
terbang kecil. Pohon pisang tumbuh subur dan sangat teratur, buahnya
sangat ranum dan sedap dipandang. Hampir diseluruh tempat yang saya
kunjungi di salah satu negeri latin ini, pisang melimpah ruah disana.
Misalnya di pinggir jalan sepanjang Naranjal, Puerto inca, Duran sampai
Guayaquil, termasuk juga di pasar tradisional dan swalayan yang terdapat
di tempat tersebut. Saya juga banyak menemuinya di perjalanan menuju ke
Santa elena, dan besar kemungkinan hampir tersebar merata di seluruh
negeri ini.
Jika
pisang bisa begitu berarti bagi negeri yang dipimpin oleh Rafael Vicente
Correa Delgado (dikenal dengan Rafael Correa) ini, tentu saja Indonesia
yang mempunyai kemiripan climate dengan negara ini bisa
mendapatkan manfaat yang sama dari pisang. Yang saya ketahui justru di
banyak daerah di Indonesia, banyak pengrajin kripik pisang kesulitan
mendapatkan pasokan untuk bahan baku kripik. Tanaman pisang di Indonesia
juga umumnya hanya dikelola secara tradisional oleh petani-petani kecil
dan kualitas yang dihasilkannya masih sangat rendah.
Saya
berharap tulisan ini terbaca oleh pengusaha Indonesia dan membuatnya
tergerak untuk menginvestasikan dananya untuk membangun perkebunan
pisang intensif dan modern, yang juga dapat menyerap lapangan kerja,
sekaligus mampu memenuhi kebutuhan domestik akan buah pisang yang
berkualitas.
Pisang di
Ecuador telah menyumbangkan 14 persen PDB dan menyerap 30 persen tenaga
kerja yang ada atau sekitar 1,25 juta tenaga kerja. Luar biasa bukan?
Bayangkan jika Indonesia dengan lahan terbengkalainya yang masih luas
bisa mencoba untuk memajukan perkebunan pisang yang selama ini masih
dipandang sebelah mata.sumber ; http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2012/05/10/menggiurkannya-usaha-perkebunan-pisang-di-ecuador-indonesia-juga-bisa-456285.html
Label: Indonesia bisa, Jual Tanaman, perkebunan pisang, tanaman buah
INILAH MUSUH PERKEBUNAN PISANG
MACAM-MACAM PENYAKIT PISANG
Tanaman pisang mempunyai potensi yang sangat besar sebagai penopang ekonomi keluarga tani, alternatif makanan pokok dan tanaman pioner. Akhir-akhir ini tanaman pisang di pulau Lombok dihadapkan pada ancaman yang sangat serius dari beberapa penyakit sistemik yang mematikan, antara lain penyakit layu fusarium, penyakit darah, dan penyakit kerdil pisang. Mengenal penyebab dan gejala serangannya sangat penting agar petani dapat melakukan pengendalian secara tepat dan benar. Penyakit yang sering menyerang tanaman pisang adalah: LayuFusarium, layu bakteri dan kerdil (Bunchy Top).
===========================================================
A. PENYAKIT LAYU FUSARIUM
Gejala penyakit layu fusarium ditemukan pada pisang Susu (Rajasere). Tanaman yang terserang menjadi layu dan mati. Seluruh tanaman dalam satu rumpun mati, termasuk anakan yang ada.
Infeksi penyakit layu fusarium terjadi bila patogen melakukan penetrasi pada akar tanaman pisang. Jamur kemudian menyerang xylem sehingga menyebabkan penutupan pembuluh. Gejala internal diawali dengan penguningan jaringan pembuluh di akar dan bonggol yang selanjutnya berubah warna menjadi merah atau coklat pada pembuluh vaskular pada pseudostem dan kadang-kadang pada tangkai tandan. Pada saat tanaman mati, jamur akan tumbuh menyebar dari xylem ke jaringan sekitarnya, membentuk klamidospore (spora istirahat) yang mampu bertahan dalam perakaran tanaman inang alternatif sampai 30 tahun. Kerusakan terutama terjadi pada kelompok pisang Cavendish (Ambon Hijau), Rajasere (pisang Susu), dan Ambon Kuning.
Penyakit ini sering disebut penyakit Panama, disebabkan oleh Fusarium oxysporum. Penularan penyakit ini melalui bibit, tanah air, pupuk kandang atau alat-alat pertanian. Gejala awal adalah menguningnya daun tua yang diikuti diskolorisasi pembuluh pada pelepah daun terluar. Perubahan warna semakin hebat terjadi pada stadium lanjut dan bila pseudostem terinfeksi dipotong akan terlihat jaringan sakit lebih keras dibanding jaringan sehat. Gejala lain adalah
perubahan bentuk dan ukuran ruas daun yang baru muncul lebih pendek serta perubahan warna pada bonggol. Penularan terutama terjadi melalui luka pada akar.
Pencegahan penularan dapat dilakukan dengan:
1.Membongkar dan membakar tanaman yang terserang dan siram tanah bekas tanaman pisang tersebut dengan fungisida.
2.Lakukan penggenangan dan pergiliran tanaman.
3.Menanam varietas tahan terhadap penyakit layuFusarium.
4.Jangan menanam bonggol, anakan atau bibit dan membawa tanah dari daerah yang sudah terinfeksi penyakit layuFusarium.
5.Gunakan bibit bebas penyakit (hasil kultur jaringan).
6.Alat-alat pertanian yang digunakan selalu disucihamakan dengan fungisida.
7.Pemanfaatan musuh alami seperti Trichoderma atau Glicocladium.
================================================================
B. PENY
AKIT LAYU BAKTERI / PENYAKIT DARAH
Penyakit darah ditemukan pada pisang Kepok. Tanaman yang terserang memperlihatkan gejala penguningan daun dan layu. Gejala luar juga diperlihatkan dengan terjadinya pengeringan pada bunga jantan. Pada serangan yang parah, batang semu mencoklat dan membusuk.
Kerusakan disebabkan oleh bakteri ‘blood disease bacterium’ (BDB), terutama terjadi pada pisang Kepok yang ditandai oleh pembusukan daging buah, sehingga daging buah busuk coklat kemerahan menyerupai darah.
Penularan penyakit dapat terjadi melalui bibit, tanah, air irigasi, alat-alat pertanian dan serangga. Bakteri ini dapat bertahan paling singkat 1 tahun dalam tanah tanpa kehilangan virulensinya. Perkembangan penyakit di lapang terutama dipengaruhi oleh adanya sumber inokulum, persen tanaman yang memasuki fase generatif dan populasi serangga penggerek bonggol dan batang. Selain faktor-faktor tersebut, penyebaran penyakit darah pada suatu wilayah juga sangat ditentukan oleh aktivitas petani dalam memelihara tanaman, serta aktivitas pedagang ketika melakukan panen buah dan bunga pisang. Penggunaan alat yang sama untuk pemeliharaan tanaman atau panen dari satu kebun ke kebun yang lain tanpa disadari merupakan satu cara penularan dan penyebaran penyakit yang sangat efektif dan cepat dari satu tempat ke tempat lain.
Penyakit layu ini disebabkan oleh bakteri Pseudomonas Solaracearum. Penularan penyakit melalui bibit, tanah, air irigasi, alat-alat pertanian atau serangga penular (vector).Gejalanya biasanya tampak setelah timbulnya tandan. Mula-mula daun muda mengalami perubahan warna dan pada ibu tulang daun terlihat garis coklat kekuningan kearah tepi daun hingga buah menjelang masak. Daun kemudian
menguning/coklat, dan layu. Gejala spesifik adalah terdapatnya lendir bakteri yang berbau, berwarna putih abu-abu sampai coklat kemerahan keluar dari potongan buah atau bonggol, tangkai buah, tangkai tandan dan batang.
Pengendalian atau pencegahanyang dianjurkan adalah:
1.Melarang perpindahan bibit/tanaman beserta tanahnya dari daerah endemik.
2.Penanaman bibit pisang sehat/bebas penyakit.
3.Pembungkusan buah beberapa saat setelah jantung keluar.
4.Sterilkan alat-alat yang dipakai dengan menggunakan formalin 30%.
5.Perbaikan drainase kebun.
6.Fumigasi tanah bekas tanaman yang terserang dengan Methyl Bromide (secara injeksi).
7.Pemusnahan tanaman sakit dengan menggunakan 5 – 20 ml larutan herbisida glyphosate 5% atau 2,4-D 2,25%.
8.Melakukan rotasi tanaman misalnya dengan menggunakan family graminae sepertisorgum, padi, jagung, rumput gajah dan lain sebagainya untuk memotong siklus patogen di dalam tanah selama sekitar satu tahun.
=========================================================
C. BERCAK DAUN SIGATOKA
Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Mycosphaerella musicola Mulder. Gejalanya mula-mula timbul bintik-bintik kuning pada tepi daun, kemudian bintik melebar menjadi noda kuning tua kemerahan sampai kehitaman, sehingga seluruh helaian daun menjadi kuning, daun menjadi lebih cepat kering dan buah matang sebelum waktunya. Pengendalian penyakit ini dianjurkan dengan pemupukan berimbang, sesuai anjuran setempat dan sanitasi sumber infeksi dengan memotong dan membakar daun-daun mati/sakit.
==========================================================
D. PENYAKIT KERDIL PISANG / BUNCHY TOP VIRUS
Penyakit kerdil pisang disebabkan oleh ‘Banana Bunchy Top Virus’ (BBTV). Gejala awal ditandai oleh adanya gejala hijau gelap bergaris pada tangkai dan tulang daun menyerupai sandi morse. Pada lembaran daun di dekat ibu tulang daun terdapat bercak/garis bengkok hijau gelap. Ketika tanaman semakin tua, pertumbuhan daun menjadi terhambat, berukuran kecil, kaku dan mengarah ke atas, tanaman menjadi kerdil.
Penyakit ini disebabkan oleh virus. Penularannya melalui vektor Pentalonia negronervosaCoq. Gejalanya adalah daun muda tampak lebih tegak, pendek, lebih sempit dan tangkainya lebih pendek dari yang normal, daun menguning sepanjang tepi lalu mengering, daun menjadi rapuh dan mudah patah, Tanaman terlambat pertumbuhannya dan daun-daun membentuk roset pada ujung batang palsunya. Pengendalian dilakukan dengan menanam bibit yang sehat dan sanitasi kebun dengan membersihkan tanaman inang seperti abaca (Musa textiles),Heliconia spp danCanna spp, pembongkaran rumpun sakit, lalu dipotong kecil-kecil agar tidak ada tunas yang hidup. Cara lain adalah dengan menggunakan insektisida sistemik untuk mengendalikan vektor terutama di pesemaian.
REFERENSI
http://ntb.litbang.deptan.go.id/ind/index.php/artikel/271-pengendalian-hama-pisang
Label: tanaman buah





















