Senin, 06 Januari 2014

Rabu, 01 Januari 2014

BELAJAR DARI PERKEBUNAN PISANG LUAR NEGERI

Menggiurkannya Usaha Perkebunan Pisang di Ecuador; Indonesia juga bisa!


Setiap negara punya daya magnet sendiri, besar kecilnya magnet itu sangat tergantung pada keunikan dan kelebihan sebuah negara ditambah dengan pengelolaan yang baik dan promosi yang efektif. Indonesia adalah negara dengan kumpulan keunikan dan keindahan yang tiada duanya di dunia, namun masih sangat lemah dalam sisi pengelolaan dan promosinya, maka jangan heran jika jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Malaysia jauh lebih besar dan berkali lipat dari Indonesia, dan Malaysia dengan ‘Truly Asia’nya adalah destinasi dunia yang patut diacungi jempol dari sisi promosinya sekaligus layak ditiru oleh Indonesia, karena untuk soal keunikan dan keindahan alam, saya rasa Indonesia tentu sangat berani bersaing dengan Malaysia, itu yang saya baca dari banyak sumber berita di Internet.
1336615279586180609
hijaunya perkebunan pisang (http://www.mundoanuncio.ec )

13366154682114549230
tanaman pisang tumbuh dengan teratur (http://www.elmercurio.com.ec)

Jika sebelumnya saya pernah memposting tentang 5 Hal unik seputar Ecuador dan juga secret story yang pernah saya alami di Ecuador. Kali ini saya ingin mempertajamnya pada daya tarik lain dari Ecuador dari potensi usaha yang juga bisa dikembangkan di Indonesia. Karena saya yakin banyak dari pembaca kompasiana haus akan inspirasi usaha untuk bisa dilakoninya. Dan kebetulan baru saja saya sedikit ‘mengubek-ubek’ tulisan di kompasiana yang berkaitan dengan peluang usaha yang menggiurkan sekaligus prospektif untuk saya jalani nanti. Saya memasukkan kata ‘sukses beternak’ di menu pencarian artikel kompasiana. Dan beberapa tulisan dengan judul yang menarik pun tersaji berkaitan dengan usaha beternak, diantaranya yaitu beternak kelinci, bebek peking, ikan lele, ikan nila dan sapi. Dan sayapun menyempatkan untuk membacanya karena saya juga haus akan inspirasi usaha yang nanti bisa saya tekuni. Saya ingin menghabiskan usia saya di desa dengan menjalankan usaha yang berbasis pada potensi desa. Karena panggilan jiwa saya lebih cendrung kesana. Apalah enaknya hidup di kota yang sumpek, padat, dan macet? Ditambah lagi dengan status sebagai karyawan yang harus pergi pagi pulang malam, dan begitu setiap harinya. Saya rasa hidup seperti itu seperti tawanan, dan ogaaaahhhh banget jika harus memilihnya.
Dari sedikit penyelidikan itu ternyata saya dapati tulisan yang memuat inspirasi usaha tingkat keterbacaannya lumayan tinggi, rata-rata diatas 500 pembaca, lumayan banget kan? Namun anehnya, jarang sekali ada yang meninggalkan komentar di artikel tersebut apalagi terjadi dialog antar sesama kompasianer agar materi tulisan bisa semakin berkembang. Mengapa bisa demikian? Pastinya saya tidak tahu, namun memang sudah umum terjadi di Kompasiana tulisan bagus dan bermanfaat terkadang lewat begitu saja tanpa terkomentari. Karena komentar sendiri seringkali hanya berupa ajang ‘balas-balasan’. Sehingga tulisan bagus dan menginspirasi seringkali tidak terkomentari karena ditulis oleh orang yang ‘tidak dikenal’ atau ditulis oleh kompasianer yang tidak pernah atau jarang berkomentar di tulisan orang lain. Yang justru lebih mengherankan adalah kompasianer seringkali bolak balik berkomentar di tulisan yang sama bahkan bisa lebih dari sepuluh kali karena terlibat percekcokan dengan kompasianer lainnya. Padahal salah satu fungsi blog yang saya ketahui adalah untuk menambah relasi, dan blog juga memungkinkan untuk terjadinya diskusi dan tanya jawab yang akan memberi manfaat berlipat. Waahhh, pengantarnya jadi berkepanjangan … Well, kita mulai sekarang!
Pisang, buah yang satu ini memang menjadi tak biasa di Ecuador, selain karena menjadi salah satu sumber devisa utama bagi negara ini, pisang juga menjadi asupan vitamin yang sangat bernilai bagi masyarakat Ecuador karena masyarakat sangat gemar mengkonsumsinya. Di pasaran dalam negeri selain karena harganya terjangkau, rasa buah pisang di Ecuador juga luar biasa; legit, lembut dan segar. Maka tak heran bila negara yang tengah di pimpin presiden berideologi sosialis dan didukung oleh banyak rakyat di daerah pedesaan namun di tentang banyak penduduk kota yang cendrung liberal ini kemudian tampil sebagai top eksportir pisang di dunia. Ditambah lagi penampilan pisang disini menawan sekali, sangat menggiurkan, tidak kalah berkelas dengan buah impor yang membanjiri Indonesia.
Pisang tidak hanya di jadikan buah konsumsi atau kripik pisang seperti yang biasa kita temui di Indonesia. Pisang di negeri yang menginspirasi Darwin menelurkan teori evolusinya ini, juga telah menjelma menjadi bahan baku sup (orang sini menyebutnya sopa), ditumbuk kemudian dibentuk seperti perkedel lalu digoreng (dikenal dengan nama Patacon). Atau digoreng biasa tanpa tepung dan dijadikan teman nasi saat makan disamping lauk pauk lainnya, bahkan nasi gorengpun dibeberapa restoran dilengkapi dengan pisang goreng di sisi-sisinya. Unik bukan?
1336616751582488396
patacon; dibebek sebelum digoreng (http://bonitisimas.blogspot.com )


Masyarakat Ecuador mempunyai beberapa sebutan untuk pisang. Pisang buah yang nikmat dikonsumsi secara langsung disebut banano atau guineo. Sedangkan pisang yang biasa diolah untuk kripik, digoreng atau diolah dalam bentuk lain disebut platano, pisang ini kurang enak untuk dikonsumsi secara langsung karena umumnya berasa sepat atau getir. Platano sendiri terbagi menjadi dua, yaitu platano verde untuk sebutan platano yang masih hijau dan belum masak dan platano maduro untuk yang sudah masak dan berwarna kuning. Platano verde umumnya dijadikan bahan baku kripik pisang yang terasa renyah saat dikunyah, sedangkan platano maduro biasa dijadikan pisang bakar yang dapat ditambahkan keju ditengahnya setelah dibakar atau langsung dimakan juga tiada yang melarang. Maduro ini banyak di jual di kafe dan kantin makan di pinggir jalan. Jika sore menjelang banyak kendaraan menepi dan pengendara menyempatkan diri untuk menikmatinya di sepanjang jalan yang menuju Naranjal dan Puerto inca.
13366170632054531608
platano verde; untuk diolah (http://lacocinadealejandro.blogspot.com)
1336617259358579240
maduro; seperti ayam bakar saja (www.soitgar.com )

Perkebunan pisang dikelola dengan sangat baik, bahkan di perkebunan pisang (bananera) yang luas, pemberian pupuk dan obat-obatan di lakukan oleh pesawat terbang kecil. Pohon pisang tumbuh subur dan sangat teratur, buahnya sangat ranum dan sedap dipandang. Hampir diseluruh tempat yang saya kunjungi di salah satu negeri latin ini, pisang melimpah ruah disana. Misalnya di pinggir jalan sepanjang Naranjal, Puerto inca, Duran sampai Guayaquil, termasuk juga di pasar tradisional dan swalayan yang terdapat di tempat tersebut. Saya juga banyak menemuinya di perjalanan menuju ke Santa elena, dan besar kemungkinan hampir tersebar merata di seluruh negeri ini.
Jika pisang bisa begitu berarti bagi negeri yang dipimpin oleh Rafael Vicente Correa Delgado (dikenal dengan Rafael Correa) ini, tentu saja Indonesia yang mempunyai kemiripan climate dengan negara ini bisa mendapatkan manfaat yang sama dari pisang. Yang saya ketahui justru di banyak daerah di Indonesia, banyak pengrajin kripik pisang kesulitan mendapatkan pasokan untuk bahan baku kripik. Tanaman pisang di Indonesia juga umumnya hanya dikelola secara tradisional oleh petani-petani kecil dan kualitas yang dihasilkannya masih sangat rendah.
Saya berharap tulisan ini terbaca oleh pengusaha Indonesia dan membuatnya tergerak untuk menginvestasikan dananya untuk membangun perkebunan pisang intensif dan modern, yang juga dapat menyerap lapangan kerja, sekaligus mampu memenuhi kebutuhan domestik akan buah pisang yang berkualitas.
Pisang di Ecuador telah menyumbangkan 14 persen PDB dan menyerap 30 persen tenaga kerja yang ada atau sekitar 1,25 juta tenaga kerja. Luar biasa bukan? Bayangkan jika Indonesia dengan lahan terbengkalainya yang masih luas bisa mencoba untuk memajukan perkebunan pisang yang selama ini masih dipandang sebelah mata.
sumber ; http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2012/05/10/menggiurkannya-usaha-perkebunan-pisang-di-ecuador-indonesia-juga-bisa-456285.html

IJIN USAHA PERKEBUNAN PISANG


Syarat dan Tata Cara Permohonan Izin Usaha Perkebunan pisang

berani melangkah ke perkebunan pisang


Usaha budidaya tanaman perkebunan pisang merupakan kegiatan pengusahaan tanaman perkebunan yang meliputi kegiatan pra tanam, penanaman, pemeliharaan tanaman, pemanenan dan sortasi termasuk perubahan jenis tanaman, dan diversifikasi tanaman. Untuk melakukan usaha budidaya tanaman perkebunan diperlukan Izin Usaha Perkebunan untuk Budidaya (IUP-B), yaitu izin tertulis dari Pejabat yang berwenang yang wajib dimiliki oleh perusahaan yang melakukan usaha budidaya tanaman perkebunan. Untuk memperoleh IUP-B, perusahaan perkebunan mengajukan permohonan secara tertulis kepada Bupati/Walikota atau Gubernur (sesuai dengan lokasi areal usaha sebagaimana dimaksud Peraturan menteri). Permohonan itu harus dilengkapi persyaratan berikut:
  1. Akte pendirian perusahaan dan perubahannya yang terakhir.
  2. Nomor Pokok Wajib Pajak
  3. Surat keterangan domisili.
  4. Rekomendasi kesesuaian dengan rencana tata ruang wilayah Kabupaten/Kota dari Bupati/Walikota (untuk IUP-B yang diterbitkan oleh Gubernur).
  5. Rekomendasi kesesuaian dengan rencana makro pembangunan perkebunan Provinsi dari Gubernur (untuk IUP-B yang diterbitkan oleh Bupati/Walikota).
  6. Izin lokasi dari Bupati/Walikota yang dilengkapi dengan peta calon lokasi dengan skala 1:100.000 atau 1:50.000.
  7. Pertimbangan teknis ketersediaan lahan dari instansi Kehutanan (apabila areal berasal dari kawasan hutan).
  8. Rencana kerja pembangunan perkebunan pisang
  9. Hasil Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL), atau Upaya PengelolaanLingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) sesuaiperaturan perundang-undangan yang berlaku.
  10. Pernyataan kesanggupan memiliki sarana, prasarana dan sistem untuk melakukan Pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT).
  11. Pernyataan kesanggupan memiliki sarana, prasarana dan sistem untuk melakukanpembukaan lahan tanpa pembakaran serta pengendalian kebakaran.
  12. Pernyataan kesediaan membangun kebun untuk masyarakat yang dilengkapi dengan rencana kerjanya.
  13. Pernyataan kesediaan untuk melakukan kemitraan.
Sedangkan untuk melakukan usaha industri pengolahan hasil perkebunan pisang
, yaitu kegiatan penanganan dan pemrosesan yang dilakukan terhadap hasil tanaman perkebunan, harus memperoleh Izin Usaha Perkebunan untuk Pengolahan (IUP-P)dari instansi berwenang. Untuk memperoleh IUP-P perusahaan perkebunan mengajukan permohonan secara tertulis kepada Bupati/Walikota atau Gubernur sesuai dengan lokasi areal usaha. Permohonan itu harus dilengkapi dengan persyaratan berikut:
  1. Akte pendirian perusahaan dan perubahannya yang terakhir.
  2. Nomor Pokok Wajib Pajak.
  3. Surat keterangan domisili.
  4. Rekomendasi kesesuaian dengan rencana tata ruang wilayah Kabupaten/Kota dari Bupati/Walikota untuk IUP-P yang diterbitkan oleh Gubernur.
  5. Rekomendasi kesesuaian dengan rencana makro pembangunan perkebunan provinsi dari Gubernur untuk IUP-P yang diterbitkan oleh Bupati/Walikota;
  6. Izin lokasi dari Bupati/Walikota yang dilengkapi dengan peta calon lokasi dengan skala 1 : 100.000 atau 1 : 50.000.
  7. Rekomendasi lokasi dari pemerintah daerah lokasi unit pengolahan.
  8. Jaminan pasokan bahan baku yang diketahui oleh Bupati/Walikota/
  9. Rencana kerja pembangunan unit pengolahan hasil perkebunan.
  10. Hasil Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL), atau UpayaPengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup(UPL) sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  11. Pernyataan kesediaan untuk melakukan kemitraan.
Seperti halnya IUP-B dan IUP-P, untuk memperoleh IUP perusahaan perkebunan harus mengajukan permohonan secara tertulis kepada Bupati/Walikota atau Gubernur sesuai dengan lokasi areal usaha dengan dilengkapi persyaratan berikut:
  1. Akte pendirian perusahaan dan perubahannya yang terakhir.
  2. Nomor Pokok Wajib Pajak.
  3. Surat keterangan domisili.
  4. Rekomendasi kesesuaian dengan rencana tata ruang wilayah Kabupaten/Kota dari Bupati/Walikota untuk IUP yang diterbitkan oleh Gubernur.
  5. Rekomendasi kesesuaian dengan rencana makro pembangunan perkebunan Provins dari Gubernur untuk IUP yang diterbitkan oleh Bupati/Walikota.
  6. Izin lokasi dari Bupati/Walikota yang dilengkapi dengan peta calon lokasi dengan skala 1 : 100.000 atau 1 : 50.000;
  7. Pertimbangan teknis ketersediaan lahan dari instansi Kehutanan (apabila areal berasal dari kawasan hutan).
  8. Jaminan pasokan bahan baku yang diketahui oleh Bupati/Walikota.
  9. Rencana kerja pembangunan kebun dan unit pengolahan hasil perkebunan.
  10. Hasil Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL), atau Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup UPL) sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  11. Pernyataan perusahaan belum menguasai lahan melebihi batas luas maksimum.
  12. Pernyataan kesanggupan memiliki sarana, prasarana dan sistem untuk melakukan pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT).
  13. Pernyataan kesanggupan memiliki sarana, prasarana dan sistem untuk melakukan pembukaan lahan tanpa pembakaran serta pengendalian kebakaran.
  14. Pernyataan kesediaan dan rencana kerja pembangunan kebun untuk masyarakat.
  15. Pernyataan kesediaan dan rencana kerja kemitraan.
Bupati/walikota atau Gubernur harus memberikan jawaban permohonan diatas dalam jangka waktu 30 hari kerja. Jawaban tersebut dapat berupa menunda, menolak atau menerima permohonan. Apabila dalam jangka waktu 30 hari kerja itu Bupati/Walikota atau Gubernur belum memberikan jawaban, maka permohonan dianggap telah lengkap dan dianggap diterima. Terhadap permohonan yang diterima atau dianggap lengkap itu kemudian diterbitkan IUP, IUP-B atau IUP-P.
Permohonan dapat ditunda apabila setelah dilakukan pemeriksaan dokumen ternyata masih ada kurang syarat. Penundaan itu diberitahukan secara tertulis kepada pemohon disertai dengan alasannya. Apabila dalam jangka waktu paling lama 30 hari kerja sejak menerima pemberitahuan penundaan pemohon belum juga melengkapi persyaratan yang kurang, maka permohonan dianggap ditarik kembali. Permohonan akan ditolak jika setelah dilakukan pemeriksaan dokumen ternyata persyaratannya tidak benar, atau usaha yang akan dilakukan bertentangan dengan ketertiban umum atau perencanaan makro pembangunan perkebunan. Penolakan itu diberitahukan secara tertulis kepada pemohon dengan disertai alasannya. (http://legalakses.com).

INILAH MUSUH PERKEBUNAN PISANG

MACAM-MACAM PENYAKIT PISANG






Tanaman pisang mempunyai potensi yang sangat besar sebagai penopang ekonomi keluarga tani, alternatif makanan pokok dan tanaman pioner. Akhir-akhir ini tanaman pisang di pulau Lombok dihadapkan pada ancaman yang sangat serius dari beberapa penyakit sistemik yang mematikan, antara lain penyakit layu fusarium, penyakit darah, dan penyakit kerdil pisang. Mengenal penyebab dan gejala serangannya sangat penting agar petani dapat melakukan pengendalian secara tepat dan benar. Penyakit yang sering menyerang tanaman pisang adalah: LayuFusarium, layu bakteri dan kerdil (Bunchy Top).


===========================================================






A. PENYAKIT LAYU FUSARIUM

Gejala penyakit layu fusarium ditemukan pada pisang Susu (Rajasere). Tanaman yang terserang menjadi layu dan mati. Seluruh tanaman dalam satu rumpun mati, termasuk anakan yang ada.

Infeksi penyakit layu fusarium terjadi bila patogen melakukan penetrasi pada akar tanaman pisang. Jamur kemudian menyerang xylem sehingga menyebabkan penutupan pembuluh. Gejala internal diawali dengan penguningan jaringan pembuluh di akar dan bonggol yang selanjutnya berubah warna menjadi merah atau coklat pada pembuluh vaskular pada pseudostem dan kadang-kadang pada tangkai tandan. Pada saat tanaman mati, jamur akan tumbuh menyebar dari xylem ke jaringan sekitarnya, membentuk klamidospore (spora istirahat) yang mampu bertahan dalam perakaran tanaman inang alternatif sampai 30 tahun. Kerusakan terutama terjadi pada kelompok pisang Cavendish (Ambon Hijau), Rajasere (pisang Susu), dan Ambon Kuning.

Penyakit ini sering disebut penyakit Panama, disebabkan oleh Fusarium oxysporum. Penularan penyakit ini melalui bibit, tanah air, pupuk kandang atau alat-alat pertanian. Gejala awal adalah menguningnya daun tua yang diikuti diskolorisasi pembuluh pada pelepah daun terluar. Perubahan warna semakin hebat terjadi pada stadium lanjut dan bila pseudostem terinfeksi dipotong akan terlihat jaringan sakit lebih keras dibanding jaringan sehat. Gejala lain adalah
perubahan bentuk dan ukuran ruas daun yang baru muncul lebih pendek serta perubahan warna pada bonggol. Penularan terutama terjadi melalui luka pada akar.

Pencegahan penularan dapat dilakukan dengan:

1.Membongkar dan membakar tanaman yang terserang dan siram tanah bekas tanaman pisang tersebut dengan fungisida.

2.Lakukan penggenangan dan pergiliran tanaman.

3.Menanam varietas tahan terhadap penyakit layuFusarium.

4.Jangan menanam bonggol, anakan atau bibit dan membawa tanah dari daerah yang sudah terinfeksi penyakit layuFusarium.

5.Gunakan bibit bebas penyakit (hasil kultur jaringan).

6.Alat-alat pertanian yang digunakan selalu disucihamakan dengan fungisida.

7.Pemanfaatan musuh alami seperti Trichoderma atau Glicocladium.


================================================================





B. PENY

AKIT LAYU BAKTERI / PENYAKIT DARAH


Penyakit darah ditemukan pada pisang Kepok. Tanaman yang terserang memperlihatkan gejala penguningan daun dan layu. Gejala luar juga diperlihatkan dengan terjadinya pengeringan pada bunga jantan. Pada serangan yang parah, batang semu mencoklat dan membusuk.

Kerusakan disebabkan oleh bakteri ‘blood disease bacterium’ (BDB), terutama terjadi pada pisang Kepok yang ditandai oleh pembusukan daging buah, sehingga daging buah busuk coklat kemerahan menyerupai darah.

Penularan penyakit dapat terjadi melalui bibit, tanah, air irigasi, alat-alat pertanian dan serangga. Bakteri ini dapat bertahan paling singkat 1 tahun dalam tanah tanpa kehilangan virulensinya. Perkembangan penyakit di lapang terutama dipengaruhi oleh adanya sumber inokulum, persen tanaman yang memasuki fase generatif dan populasi serangga penggerek bonggol dan batang. Selain faktor-faktor tersebut, penyebaran penyakit darah pada suatu wilayah juga sangat ditentukan oleh aktivitas petani dalam memelihara tanaman, serta aktivitas pedagang ketika melakukan panen buah dan bunga pisang. Penggunaan alat yang sama untuk pemeliharaan tanaman atau panen dari satu kebun ke kebun yang lain tanpa disadari merupakan satu cara penularan dan penyebaran penyakit yang sangat efektif dan cepat dari satu tempat ke tempat lain.

Penyakit layu ini disebabkan oleh bakteri Pseudomonas Solaracearum. Penularan penyakit melalui bibit, tanah, air irigasi, alat-alat pertanian atau serangga penular (vector).Gejalanya biasanya tampak setelah timbulnya tandan. Mula-mula daun muda mengalami perubahan warna dan pada ibu tulang daun terlihat garis coklat kekuningan kearah tepi daun hingga buah menjelang masak. Daun kemudian
menguning/coklat, dan layu. Gejala spesifik adalah terdapatnya lendir bakteri yang berbau, berwarna putih abu-abu sampai coklat kemerahan keluar dari potongan buah atau bonggol, tangkai buah, tangkai tandan dan batang.

Pengendalian atau pencegahanyang dianjurkan adalah:

1.Melarang perpindahan bibit/tanaman beserta tanahnya dari daerah endemik.

2.Penanaman bibit pisang sehat/bebas penyakit.

3.Pembungkusan buah beberapa saat setelah jantung keluar.

4.Sterilkan alat-alat yang dipakai dengan menggunakan formalin 30%.

5.Perbaikan drainase kebun.

6.Fumigasi tanah bekas tanaman yang terserang dengan Methyl Bromide (secara injeksi).

7.Pemusnahan tanaman sakit dengan menggunakan 5 – 20 ml larutan herbisida glyphosate 5% atau 2,4-D 2,25%.

8.Melakukan rotasi tanaman misalnya dengan menggunakan family graminae sepertisorgum, padi, jagung, rumput gajah dan lain sebagainya untuk memotong siklus patogen di dalam tanah selama sekitar satu tahun.


=========================================================


C. BERCAK DAUN SIGATOKA

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Mycosphaerella musicola Mulder. Gejalanya mula-mula timbul bintik-bintik kuning pada tepi daun, kemudian bintik melebar menjadi noda kuning tua kemerahan sampai kehitaman, sehingga seluruh helaian daun menjadi kuning, daun menjadi lebih cepat kering dan buah matang sebelum waktunya. Pengendalian penyakit ini dianjurkan dengan pemupukan berimbang, sesuai anjuran setempat dan sanitasi sumber infeksi dengan memotong dan membakar daun-daun mati/sakit.


==========================================================


D. PENYAKIT KERDIL PISANG / BUNCHY TOP VIRUS


Penyakit kerdil pisang disebabkan oleh ‘Banana Bunchy Top Virus’ (BBTV). Gejala awal ditandai oleh adanya gejala hijau gelap bergaris pada tangkai dan tulang daun menyerupai sandi morse. Pada lembaran daun di dekat ibu tulang daun terdapat bercak/garis bengkok hijau gelap. Ketika tanaman semakin tua, pertumbuhan daun menjadi terhambat, berukuran kecil, kaku dan mengarah ke atas, tanaman menjadi kerdil.

Penyakit ini disebabkan oleh virus. Penularannya melalui vektor Pentalonia negronervosaCoq. Gejalanya adalah daun muda tampak lebih tegak, pendek, lebih sempit dan tangkainya lebih pendek dari yang normal, daun menguning sepanjang tepi lalu mengering, daun menjadi rapuh dan mudah patah, Tanaman terlambat pertumbuhannya dan daun-daun membentuk roset pada ujung batang palsunya. Pengendalian dilakukan dengan menanam bibit yang sehat dan sanitasi kebun dengan membersihkan tanaman inang seperti abaca (Musa textiles),Heliconia spp danCanna spp, pembongkaran rumpun sakit, lalu dipotong kecil-kecil agar tidak ada tunas yang hidup. Cara lain adalah dengan menggunakan insektisida sistemik untuk mengendalikan vektor terutama di pesemaian.






REFERENSI

http://ntb.litbang.deptan.go.id/ind/index.php/artikel/271-pengendalian-hama-pisang

© Copyright SINOX NURSERY